Arsip Kategori: Ide

Kutipan-kutipan yang Paling Berpengaruh Dalam Hidup Saya

Saya ridha kalau ada startup yang pengen website dengan ide seperti ini.

Intinya ini bentuk terimakasih dari seorang semacam saya, seorang yang linguistik, yang cukup mudah mengingat kata-kata yang berkesan untuk kemudian diingat terus menerus, kepada teman-teman yang pernah mengatakan kutipan berlian ala mereka pada saya.

Sekali lagi, untuk yang saya hormati, nama-nama di bawah ini, terima kasih; Anda telah memperkaya hidup dan cara pandang saya. (Halaman ini akan terus diperbaharui)

Salam, Muhammad Fadlian Amhar.

*** Lanjutkan membaca Kutipan-kutipan yang Paling Berpengaruh Dalam Hidup Saya

Grows Exponentially

Imagine

Imagine how Rasulullah [pbuh] draw an illustration for a particular material in his majelis, among all the sahabahs. Imagine how did someone draw an illustration, in the early age of literation or even visual art. The material which they’d talked is about a Man, his/her Dream, and the Reality. The question is how the early generation of muslim imagine that material and illustrate it into a drawing. It must be in so simple one right? True. But, you may guess one. Lanjutkan membaca Grows Exponentially

Eclipse-Hour

Earth Hour katanya ngewajibin aktivisnya untuk matiin lampu.

Hmm, kapan ada gerhana lagi?
Saya kepikiran untuk bikin gerakan Eclipse Hour.

Eclipse Hour; di mana manusia mematikan terang buatannya selain buatan-Nya. Tapi, di kala gerhana, tidak ada terang. Maka matikan semuanya agar manusia modern memerhatikan kegelapan, agar manusia sadar bahwa ia tidak tahu apa-apa, agar manusia sadar Siapa yang memelihara :
langit dan bumi,
terang dan gelap,
cerah dan tunduk.
Takut.

Sinetron Oh Sinetron

*tulisan ini dibuat ketika saya di kelas 12 sebagai tugas bahasa Indonesia*

Dari bangun tidur hingga tidur kembali, kita disuguhkan berbagai macam jenis acara televisi. Acara berita, hiburan, penyejuk hati dan acara hiburan-lagi selalu senantiasa menemani hari-hari kita. Belum lagi, masih banyak acara televisi yang “sengaja” berkamuflase menjadi acara “penyejuk hati”, padahal masih juga mengejar esensi entertainment atau hanya mempopulerkan pengisi acara ataupun event yang sedang “rame”, apalagi mengeksploitasi anak-anak sebagai “sumber rezeki”. Lanjutkan membaca Sinetron Oh Sinetron