Sinetron Oh Sinetron


*tulisan ini dibuat ketika saya di kelas 12 sebagai tugas bahasa Indonesia*

Dari bangun tidur hingga tidur kembali, kita disuguhkan berbagai macam jenis acara televisi. Acara berita, hiburan, penyejuk hati dan acara hiburan-lagi selalu senantiasa menemani hari-hari kita. Belum lagi, masih banyak acara televisi yang “sengaja” berkamuflase menjadi acara “penyejuk hati”, padahal masih juga mengejar esensi entertainment atau hanya mempopulerkan pengisi acara ataupun event yang sedang “rame”, apalagi mengeksploitasi anak-anak sebagai “sumber rezeki”.

*saya baru sadar banyak menggunakan tanda kutip, dan seperti biasa, kalimat panjang*

Saya menyoroti salah satu jenis acara yang selalu ditampilkan di televisi, khususnya pada waktu “prime time” alias pukul 20.00 malam hingga pukul 22.00 malam, yaitu sinetron. Sinetron merupakan acara televisi yang sudah saya kenal sejak saya kecil. Saya kenal acara “Tersanjung” yang bersekuel hingga tujuh sekuel. Sekarang, entah mengapa, para penonton selalu disuguhkan sinetron yang tidak jauh beda dengan sinetron “Tersanjung”, berikut sekuelnya. Hal yang berbeda hanyalah regenerasi angkatan artis, hanya “sekedar” mengisi jam tayang atau grafis visual yang agak memaksakan. Namun, di sekeliling acara-acara sinetron yang sama jenisnya, ada (pernah) sinetron yang mengangkat tema yang “melawan arus”.
Hal yang lebih mengherankan saya adalah sinetron yang mengangkat tema remaja dan cinta masih saja bertahan. Hal ini menunjukkan bahwa -mungkin- masih ada penonton yang setia menonton sinetron di televisi setiap serinya. Lebih daripada itu, berarti jika kita ingin menghilangkan sinetron yang kurang berkualitas dari sisi moralnya, kita juga harus menghipnotis agar penontonya mulai muak akan acara tersebut. *saya nyengir menyadari saya nulis ini haha* Hal ini mungkin terlambat, tetapi tidak juga.
Sebenarnya kita bisa membuat sinetron yang diselipkan ide brilian. Idenya bahwa kita bisa mengngkat tema tentang ujian sekolah, atau tema tentang Pemilu. Tentu saja tanpa tema remaja dan percintaan. Tanpa visual grafis yang “aneh”. Hanya dengan bintang film yang cocok dan skenario yang sesuai dengan realita. Penulis yakin sinetron yang seperti ini akan membawa hikmah yang baik dibandingkan sinetron yang hikmahnya tanggung.

nilai : 85 \m/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s