Bahasa Perasaan

 

 

 

 

 

 

 

(Justru Seharusnya) Belajar Bahasa Harus Menggunakan Perasaan*

"ya, jawabannya apa? ******?"
"A. Which"
"Naha jawabanna which ******?"
"enakeun, **! hahaha"
(kontan seluruh isi kelas tertawa. baik yang tertawa lepas,mentertawakan,atau tertawa setengah-setengah)

"blablablabbla….., hanya orang yang ***** ****** **** saja yang menjawab pertanyaan dalam bahasa ******* menggunakan perasaan, alias Enakeun!"
(kontan seluruh isi kelas menghentikan tertawaannya, atmosfirpun mendadak berat gara-gara kalimat tadi yang diucapkan dengan ‘strength’ sedikit)

Ya, kira-kira percakapan itulah yang akan saya obrolin sedikit di sini. tentang sebuah sisi di dalam dunia belajar mengajar. Ini tentang di-tidakboleh-kannya menjawab soal pelajaran bahasa (terutama bahasa kita dan bahasa internasional) menggunakan perasaan ‘enakeun‘ (saya tidak tahu apa arti enakeun dalam bhs. indonesia, tapi agak cocok dengan : ‘nyaman’). Lebih dari itu, ini Tentang kenapa di Indonesia, pelajaran bahasa termasuk pelajaran yang sulit -baik untuk murid, maupun bagi gurunya sendiri..haha- dan penuh kontroversial dalam hal konteks atau malahan dalam hal menjawab soal-soal di sekolah.

Suatu hari saya melamun dan tidak puas tentang mengapa kita (pelajar) dilarang menggunakan perasaan kita ketika menjawab soal pelajaran bahasa. Dari situ saya mulai berfikir bahwa mungkin hal inilah yang membuat pelajaran ini adalah pelajaran yang super-duper sulit, karena biasanya menurut kita, semua jawaban pada pilihan ganda adalah jawaban yang benar. Kesulitan ini sudah saya dengar sejak menjelang Ujian Akhir Nasional SMP, waktu saya masih kecil.

Kita mungkin sama-sama berfikir bahwa pelajaran bahasa memang pelajaran yang sulit. Tapi, tidakkah ada jalan lain -paling tidak- untuk merubah keadaan?. Maksud saya, pasti ada jalan keluar, dari peliknya kita pada saat menjawab soal (terutama UN) Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris (maaf, Tanpa kunci jawaban, tanpa sms, dll sebagainya), di samping solusi terbaik saat ini adalah banyak latihan soal (baca:memBELI buku latihan soal)(baca:membeli=mengeluarkan uang).

Saya menyimpulkan lamunan saya.

Berarti, ini pasti gara-gara lingkungan kita. Maksudnya, pembelajaran Bahasa Indonesia harus menyenangkan. ‘Tar dulu. Maksud menyenangkan di sini, adalah, pembelajaran adalah referensi kita dalam berbahasa. Saya perjelas lagi. Pembelajaran Bahasa Indonesia harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari!. Sadar atau tidak sadar, materi (Standar Kompetensi) pelajaran ini adalah materi yang bagus, menurut saya. Mengapa? Karena banyak hal yang akan kita praktekkan, terutama setelah kita menjadi masyarakat di luar sana (bukan di bulan!). Kita mungkin di masa depan akan tetap menulis Surat Izin, Surat Lamaran, teknik menulis makalah, Memo berikut aturan-aturannya, dan yang paling penting "teknik" komunikasi. Menurut saya, teknik berkomunikasi kita akan bermanfaat pada tempat yang tepat. Tempat yang formal, kita menggunakan bahasa formal. Perbedaan tempat, otomatis mengubah cara berkomunikasi kita. EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) adalah komponen yang PENTING jika kita masih ingin melestarikan bahasa kita sendiri selamanya (karena hal terburuk jika kita tetap keukeuh mengabaikan EYD, mungkin suatu hari EYD tiada. gak keren man!). Dan sekali lagi, teknik membaca cepat, teknik memahami maksud tiap paragraf, teknik mencari kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teknik membuat iklan, menjelaskan perbedaan opini dan pendapat, grammar English, conversation, expression of graduation, expression of apology, DAN LAIN-LAIN, itu semua BERGUNA KETIKA KITA BERKOMUNIKASI. Saya yakin itu.
Sastra, dan lain-lainnya lebih baik kita tanamkan sebagai wawasan.

Mungkin begini saja.
Kita harus terbiasa melakukan hal itu. Hal itu teh maksudnya kompetensi dasar itu, yang tadi saya sebutkan. Semua dari kita (pelajar) harus diberi tugas menulis, mendengarkan, dll, untuk tujuan yang nyata (bukan hanya mendapat nilai). Misalnya, kita harus menulis esai kritik sastra untuk acara-acara di televisi yang tidak mendidik. Atau menulis surat untuk seseorang di luar negeri (Sejujurnya, saya pernah disuruh guru Bahasa Inggris SMP saya, untuk saling mengirim surat untuk warga asing (waktu itu, saya kalo tidak salah daerah Inggris, atau apalah) sebagai tugas akhir. Sebelumnya saya berkenalan melalui chatting di MIRc (program ‘wajib’ komputer chatting sederhana yang ada di warnet)). Itu tentu menyenangkan, baik bagi anak SMP atau siapapun. Dan akan menjadi kesan tersendiri bagi masing-masing siswa yang MENGERJAKAN (tidak ada contek-mencontek, dll) tugas ini. Percaya-lah. Sebenarnya, di Indonesia dibutuhkan guru bahasa yang jenius, dalam mempraktekkan kompetensi dasarnya untuk berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain.

Dan dibutuhkan juga lingkungan, dalam hal ini. Di luar rumah dan sekolah kita, jika saya hubungkan dengan tulisan ini, haruslah berbahasa yang "baik yang benar" (begitu, kata guru saya).Televisi adalah media yang paling jenius, menurut saya. Tapi pertama-tama hilangkan Sinetron remaja yang minim manfaat + teladan. Masukkanlah acara yang menarik, tapi menggunakan bahasa yang baik dan benar. Atau di radio, atau di….yaa banyak lah! Kalau lingkungan kita sudah menggunakan bahasa ini dengan nyaman dan ‘nempel’ di setiap ucapan kita, pasti pembelajaran Bahasa di sekolah akan menjadi hal yang BIASA. Hingga akhirnya ujian bahasa indonesia adalah proyek yang luar biasa, misalnya perencanaan sebuah acara, perencanaan ide kreatif acara tv, pembuatan film, penyelenggaraan acara, kunjungan dan makalahnya, pembuatan makalah mirip tugas akhir untuk mahasiswa, dan lain-lain. Pasti ini tidak akan menjadi hal yang paling berat dari sedereta standar kompetensi, jika kompetensi dasar yang pada awal tulisan ini saya sebutkan sudah dikuasai dengan metode: "Enakeun" dan terbiasa.

Ketika suatu hari kita sudah faham dalah hal berbahasa, menjawab pertanyaan soal-soal pelajaran bahasa, pasti sudah boleh munggunakan alasan:"Enakeun". Tentu karena SEMUA ORANG terbiasa mengucapkan atau mempraktekkan hal itu.
Tentu juga jika tulisan ini dipakai sebagai revolusi, diperlukan pula proses, alias pembiasaan, perubahan sistem pendidikan, inisiatif, kreatifitas dan kemauan. Dan ENAKEUN.

Yaa opini ini mah hanya dalam rangka uji coba fitur "Notes" di facebook.

Sofa Kontemplasi