The Infinite Horizon


#skripsiEPIC episode… berapa ya.

Episode ini sudah dicicil sejak september lalu. Jadi akan sangat panjang dan nuansa nyampah.

Suatu hari teman saya pernah bertanya “masih ngapain” saya, dan saya jawab “masih di kubangan”. Ah.

#skripsiEPIC dibuat sengaja untuk menjadi jurnal yang biasanya. Mungkin banyak sekali kawan-kawan yang juga lebih epic dari yang saya alami, tapi saya tidak bicarakan itu. Mudah-mudahan hidup kalian bermanfaat. ūüôā

Episode-episode-biasa-aja (yang sengaja ditulis) ini kemudian saya impikan (dengan sadar) agar memiliki akhir yang baik. Dengan kerja keras -relatif- dan produk yang terpakai.

Tapi, nampaknya pemandangan¬†¬†itu sengaja saya buat-buat sebagai placebo.¬†Tadinya saya mau rangkum episode ini menuju suasana cerah, dengan “Knowing Nothing can be Better”, namun nampaknya judul itu tidak sepenuhnya pas.

bagi yang sudah mencium episode ini akan berkabut, (dan mengira #skripsiEPIC adalah imaginary success story) Anda bisa berhenti di sini


Marilah kita mulai dari memandang rumput tetangga. Pria yang tidak punya track record programming yang di atas rata-rata ini sok jago memilih javascript sebagai bahasa kode program untuk produk penelitiannya. Dengan dalih ingin menaklukkan diri sendiri; dengan proses (yang terlalu lama?); sedikit demi sedikit dibuat, di samping satu persatu kawan-kawan lain melangkah ke fase hidupnya yang semakin baru.

Ada yang lanjut S2. Ada yang lanjut S2¬†foto sidang tesisnya sudah di-post. Ada yang fasttrack sampai doktoral di luar negeri. Ada yang nyaris sama jadwal sidangnya dengan saya tetapi dia lulus. Ada yang diterima bekerja. Ada yang menikah. Ada yang entah ke mana. Dan ada yang terus menerus…. di sini.

Saya penasaran, sedang apa mereka sekarang.


Hari itu, pada bulan yang kemarin-kemarin, saya hadir Bimbingan dengan hadiah revisi-revisi. Sudah saya duga, beliau missed perihal bahwa Q-Learning yang saya maksud adalah algoritma AI; bukan model pembelajaran. Tapi ya sudah.

Saya masih ingat, melewati “twin-tower”-nya FIP, ada mahasiswa-mahasiswa yang menyanyikan lagu Totalitas Perjuangan. Kayaknya sedang ada acara. Tapi mengapa saya, saat itu, ditakdirkan melewati jalan tersebut dan diperdengarkan sayup-sayup lagu semacam itu?

Tentang revisi, pada akhirnya saya mengakui bahwa saya buruk dalam urusan penulisan ilmiah. Dibandingkan dengan urusan berbicara, ternyata menulis cederung lebih sulit buat saya. Membaca source code program cenderung lebih mudah buat saya dibandingkan membuat ulangnya.

Beranjak ke dosen yang lain, tidak ada revisi yang signifikan kecuali agar saya cepat menyelesaikan. Tak ada debat di situ. Namun satu hal yang saya sadari adalah bahwa dosen berharap saya wisuda desember ini.


Saya tidak pandai memelihara harapan orang lain. Mungkin karena keegoisan saya sendiri atau ketidakpantasan saya. Siang itu saya bermain gitar dengan kawan sebangku saya di waktu istirahat. Bernyanyi-nyanyi keras dengan duet. Di jendela, saya diperhatikan oleh guru pembina ekskul dan entah apa yang ada di pikiran beliau melihat kelakuan saya di kelas. Mungkin beliau¬†punya standard yang beda yang tidak mampu saya raih. Nilai sayapun tidak terlalu bagus bahkan, saya pernah ikut menggunakan “kertas-kertas kecil” itu sebagai pengganti buku paket; sebagai sumber hafalan ulangan harian. Walaupun tidak saya gunakan ketika waktu ujian, saya rasa saya salah betul.

Saya tidak pandai memelihara harapan orang lain; saya ingin saya diterima di bumi dengan harapan-harapan yang saya buat sendiri. Mungkin ini salah.


Salah satu guru favorit saya di sekolah adalah guru pada mata pelajaran, yang mana, nilai saya parah. Saya respect pada beliau ketika beliau bilang bahwa saya tidak bisaeun di mata pelajaran ini. Secara implisit saya diterima apa adanya.

Lalu…. oktober,¬†-entah kenapa- saya bertemu dengan beliau di KPAD. Dengan raut yang berubah sedikit, dan beliau berharap agar saya segera lulus. Beliau mengira bahkan : “wah cepat sekali ya?”. Padahal saya termasuk mahasiswa penumpang gerbong belakang, hahaha. The Amazing Bu Cholifah. Bertanya sedikit tentang masihkah rumahnya di sana, ternyata masih.¬†Semoga beliau sehat selalu. Salut, beliau masih mengajar.

Kesempatan Pertama

Sedikit demi sedikit, saya kerjakan. Dengan pola yang sama : bangun duduk, makan, kamar mandi, shalat, duduk, duduk, duduk, tidur. Makin sini, saya dipaksa yakin agar saya berani maju ke ujian #skripsiEPIC.

Di hari yang lain, ditengah-tengah calon wisudawan lain, dosen-dosen yang sudah lama saya tidak bertemu dengan mereka memberikan semangat buat saya.

Ada dosen yang bertanya, “kok masih di sini?”. Saya hanya tertawa. Ada yang dengan¬†friendly-nya bertanya “kemana ajaa?”. Saya bahkan -masih- dipanggil ‘Mantan Presiden’; betapa malunya saya. Ada juga yang hanya memandangi judul yang saya daftar-prasidang-kan tanpa komentar; sayapun tidak berminat membuka percakapan.

Berminggu-minggu, tak ada panggilan sama sekali mengenai proposal PPM yang saya ajukan. Ya, saya gagal di proposal PPM yang dosen-pertama saya tawarkan. Sungguh, ini pengalaman berharga, karena beliau mempersilakan saya menjalani harapan saya. Namun mungkin proposalnya terlalu absurd.

Kembali ke kursi, ternyata saya harus menyadari bahwa saya hina gak ambil mata kuliah OOP sewaktu kuliah. Seingat saya, saya tidak jadi ambil karena saya tidak fokus memilih mata kuliah yang saya sukai. Dang it. Pengubahan dari fungsi-fungsi yang berserakan menjadi objek-objek ternyata memusingkan. Sekarang (11/12/2014), semuanya sudah basis objek walaupun tidak ideal.

Pulang-pergi, berdiri dan duduk saya usahakan agar saya bisa ikut di Oktober. Siang itu, ketika pada akhirnya saya harus mengakui bahwa masih banyak yang belum saya selesaikan. Padalah dari segi penulisan BAB I, II, III saya sudah menulis sangat banyak. (Bahkan dosen bilang ini seperti skripsi sastra, tapi saya tetap bersikukuh).

Saya mengasumsikan Oktober adalah kesempatan terakhir saya untuk bisa wisuda di Desember. Sehingga saya tidak tidur (di menjelang hari pengumpulan); namun ternyata¬†chatting¬†yang padahal hanya tinggal memanfaatkan WebSocket itu malah saya pelajari dari mulai HTTPrequest. <— Intinya saya gak nguasain betul-betul apa yang saya gunakan di kode program. Waktu saya semakin habis. Di siang yang suram itu saya harus menyadari bahwa saya gagal.


Kalaupun ada definisi tertentu untuk kejadian ini, saya lebih suka menamainya terlambat.

14 Oktober, Saya lapor pada dosen bahwa saya tidak sanggup mengumpulkan draft, karena masih ada kendala di program. Lalu saya pulang dengan harapan sebesar nol, tentang wisuda. Saya butuh beberapa jam untuk akhirnya mengakui bahwa saya tidak mungkin menerima toga Desember ini. Soalnya, saya yakin bahwa saya bisa. Namun lagi-lagi ini cuma ilusi. Dengan sok jago, saya berharap agar saya masih punya kesempatan.

Di motor, saya dapat SMS bahwa masih ada persidangan di November. Saya berkaca-kaca; karena Allah menghadiahkan kejadian seperti ini. Sejak hari itu, prodi selalu mengadakan Sidang di setiap bulan. Entah kenapa.


Kesempatan ke Dua

Siang itu, sepulang dari prodi, saya bertemu dengan kawan baik saya, yang sudah mengenakan jas hitam dengan ganteng. Ya, dia sidang. Mengeluhkan revisi-revisi, dia mengingatkan saya bahwa masih ada kawan-kawan lain yang juga belum ada kabar kelulusannya. Saya hanya bilang pada Alfian bahwa saya mengejar Desember. (Saat itu, saya tidak tahu bahwa justru Novemberpun…)

Tadinya saya pikir saya tidak akan sanggup, tapi siang malam saya di depan komputer. (Untuk yang mengira bahwa saya sedang¬†mengemis,¬†: Enggak kok!). Siang malam. Siang malam. Jumat ke jumat. Bahkan seringkali komputerpun ‘mengantuk’¬†memperhatikan¬†saya, saking saya tidak tahu kenapa kode ini berhasil-kenapa kode ini error. Mungkin yang membuat proses ini lama adalah karena saya lebih banyak memikirkan mengapa ini error; daripada buru-buru menyelesaikannya.

Ada kawan saya yang menawarkan agar saya menulis buku : saya tolak. Ada yang menawarkan menjadi pengelola website : saya tolak. Ada undangan pernikahanpun saya bawa kertas-kertas kecil untuk kotretan skripsi. Lepas dari komputerpun saya masih heran tentang kode program. Sungguh bulan-bulan itu sangat intensif.

Saya baru ngerti konsepsi gridworld sebagai representasi Q-Learning itu waktu ke nikahannya kang Irfan bersama kawan-kawan

Saya banyak tanya pada kawan-kawan in every details of skripsi. Bahkan saya merasa harus bertanya soal dresscode. Terima kasih banyak untuk kalian!. Yap, mereka lulus duluan.

Saya daftar prasidang dengan ragu. Kalapun dianggap saya yakin, saya yakin dengan hasil seadanya. Saya kejar agar saya bisa penelitian di pekan terakhir pengumpulan. Tapi apa daya. Saya stuck di Q-Learning. Dalam keadaan bingung seperti itu, saya mulai berfikir secara horizontal, lalu memunculkan kebingungan yang menjamur di pikiran saya. Bahkan dimulai dari pertanyaan mendasar tentang mengapa algoritma ini yang dipilih. Dan pertanyaan-pertanyaan lain memikirkan jawabannya, sambil tiduran.

Saya pulang dengan tangan kosong, saya gagal ikut prasidang; berkas saya tidak lengkap. Saya pulang.


Kesempatan Ketiga

Saya kembali ke kursi lagi, namun kali ini saya mengunci kamar. Saya mulai sadar bahwa saya tidak lagi makan teratur. Lebih dari itu, saya mulai malu ke mana-mana, karena saya mahasiswa yang belum lulus.

Sampailah pada hari di mana saya harus mendefinisikan kesempurnaan. (Nanti saya buat tulisan tentang ini). Saya harus hentikan pengembangan ini sampai pada titik tertentu.

Kelemahan saya adalah : “kalau¬†saya punya waktu, mengapa saya tidak sempurnakan pekerjaan ini?”. Ya, pola pikir semacam ini membawamu pada… Infinite Horizon. Mulai tercium #skripsiEPIC ini tidak akan selesai-selesai; kecuali¬†saya mendefinisikan selesai itu sendiri.


Saya cukup yakin bahwa gak ada yang namanya constant failure. Aneh aja, seperti gak ada kisah hidup yang naik turun -gitu. Tapi dengan kejenuhan semacam #skripsiEPIC ini, saya jadi bertanya : mengapa saya sering gagal.

Di semester-semester muda yang lalu, saya dapat tugas tentang Code Igniter. Di-deadline-kan 12 jam dari waktu kuliah, saya kesulitan, lalu saya menyerah dan mengumpulkan seadanya. Atau di semester yang lebih muda dari itu, pada saat tugas besar Pemrograman Visual, subuh, di mana saya mengumpulkan seadanya.

Dan…. dengan bego nya saya memilih tema pemrograman di #skripsiEPIC; dengan dalih menaklukkan diri sendiri. Tapi kalau diminta membuat pilihan, saya suka dengan kalimat : “Saya yang maju, atau Anda yang mundur!“.

Di suatu minggu, saya sempatkan untuk mengecek networking dari satu laptop ke semuanya. Berhasil. Saya makin yakin saya bisa penelitian.

Lalu saya meminta jadwal penelitian ke sekolah. Sekolah memberikan hari kamis, saat itu. Sudah saya siapkan -seadanya-. Saya hadir ke sekolah, tapi sang Guru sibuk sehingga dutunda sampai siang. Akhirnya saya putuskan untuk cari dosen dahulu ke sekolah. Tak ada dosen. Saya kembali lagi ke sekolah.

Saya masuk kelas, dan perkenalkan diri. Ini hari yang ditunggu-tunggu. Hasil angket hari itu saya rencanakan untuk segera saya olah semalaman. Di menit-menit awal, saya minta izin pada operator network sekolah agar saya diizinkan masuk network. Ternyata beliau kira ini penggunaan wifi. Akhirnya saya ngubek-ngubek di depan kelas untuk membuat hotspot. Celakanya, saya baru pertama kali membuat hotspot via laptop saat itu. Beruntung, saya dibolehkan menggunakan wifi, untuk bisa lihat how-to nya. Celakanya, 45 menit berlangsung, hotspot belum jadi. Saya forfeit penelitian itu dan meminta maaf sebesar-besarnya pada Guru. How pathetic.

11 November, saya mundur dari prasidang. Dengan sadar saya coret nama saya di daftar itu. Sudahlah, rizki saya bukan Desember. Pak andri berkaca-kaca, entah kenapa.

Lalu saya pergi bimbingan. Hmm, bimbingan saat itu seru sekali. Saya tampilkan kerjaan saya dan banyak mendapatkan feedback. Walaupun beliau menyinggung-nyinggung kata Desember yang saya agak sensi; atau mungkin saya saja yang tidak cukup tangguh.

Tapi, menurut saya, ini adalah lampu merah. Saya gak yakin apa saya masih pantas punya harapan. Mungkin saya gak pandai memanfaatkan waktu? Begitukah?

Saat itu hujan; di luar dan di dalam rumah. Saya pulang ke rumah yang tidak ada sesiapa.

27 November. Bapak saya : “Jadi gimana?”. Saya : “Gagal Desember.”. Entahlah percakapan macam apa yang pantas saya buka setelah kejadian ini, dengan bapak saya.

Ternyata lulus Novemberpun, peluang Wisuda nya Desember. Eh, April. Desempril.

Saya mulai meragukan diri saya sendiri lalu nyaris menyesal atas pilihan-pilihan yang sudah dibuat. Namun saya jadi bertanya, dan masih bingung mengapa seseorang dilarang menyelamatkan dunia melalui skripsinya. #skripsiEPIC

Kesempatan keempat

Screenshot_2014-12-11-05-18-19

Hari (11/12) ini saya siapkan alarm terbaik yang saya bisa, untuk finishing. Entah kenapa, saya tidak bangun.

Dari empat kesempatan saya bisa sidang, ini kesempatan ketiga saya daftar prasidang. Besok (12/12) adalah hari terakhir pengumpulan draft.

Berdasarkan rencana saya, kemarin adalah hari penelitian. Saya datang ke sekolah, ternyata UAS. Saya pikir pekan kemarinlah UAS. Saya coba lobby untuk dapat waktu penelitian di siang ini sepulang sekolah, saya tidak dapat. Rabu depanlah jadinya saya dapat jatah penelitian. Selasa lah prasidangnya.

Saya buat plan cadangan untuk mengejar validasi. Ya, alhamdulillah kerjaan saya yang seadanya ini nyaris selesai; membetulkan antarmuka yang salah-salah sedikit.


Lalu, 10.30 tadi, di rumah padam listrik.

Ya. Allah.


Kalau ditanya target, tentu target saya adalah April. Tahun lalu.


Terlanjur daftar prasidang, saya mohon izin untuk bisa bertemu dosen besok… untuk mundur. Lagi.

Saya belum tahu apa yang Allah inginkan dari saya ini; dan masih bingung mengapa atas apa yang saya harap-harapkan, jalan saya banyak temboknya. Akhirnya saya ganti saja judul tulisan ini.

Ah, sepertinya dosa saya masih terlalu banyak untuk bisa meraih rizki semacam Toga ini.

10857727_891962114167414_3332748519835921465_n

Tapi, Selamat Wisuda.

cat : Infinite Horizon adalah pemodelan masalah di mana suatu proses akan berjalan terus menerus, dengan state yang berbeda-beda. Ada algoritma untuk mendapatkan keuntungan yang besar selama menjalani Infinite Horizon

Saya harus segera cari pemasukan.


UPDATE : 24/12/14. Sekolah sudah mau bagi raport. Penelitian saya diundur ke Januari. Selamat tahun baru. #skripsiEPIC

Iklan

Satu pemikiran pada “The Infinite Horizon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s