Politik

Belajar Politik dari Haji


“Tak pelak lagi, Haji adalah sendi politik !”, ungkap Dr. Sa’id Hawwa penuh keyakinan dalam sebuah kitabnya : “Al Islam”. Ketika Muslim yang mampu dari seluruh dunia berhimpun dalam kesatuan seragam dan komando, sulit untuk menampik makna politik dari baliknya. Ketika sebuah manasik menggiring mereka kepada sebuah pola terstruktur untuk menaklukkan tiga buah jumrah sambil merayakan hari kemenangan di saat yang sama, bukankah itu politik dalam pengertian yang sejatinya ?

Maka, Haji adalah sebuah gerakan politik, namun minus kecemasan. Karena haji telah dibingkai kuat oleh sebuah manasik, sebuah minhaj dan aturan main yang dijalani khusyuk oleh para pesertanya. “Gerakan” ini selalu saja dimainkan oleh puluhan bangsa, ratusan bahasa, dan berbagai warna kulit, tapi manasik mempertemukan mereka di jalan yang sama. Thawaf bergerak ke arah yang sama, sedangkan mencium Hajar Aswad tak pernah berubah menjadi tragedi. Di bawah manasik, para provokator kehilangan seluruh kesempatan.

Politik Thawaf adalah politik strategis, bukan politik praktis. Target jangka pendek yang terukur bukanlah tujuannya. Politik Thawaf adalah politik melingkar tanpa ujung, politik di mana Allah adalah porosnya, dan hanya Allahlah yang tahu di mana akhirnya. Dalam politik Thawaf, ujung dari sebuah perjuangan politik bukanlah hal penting, karena Allah adalah pemegang mandat kekuasaan (Maalikal Mulk). Ia berikan kekuasaan kepada yang Ia kehendaki.

Politik haji bukanlah siasat untuk berkelit. Tak ada tipu daya, muslihat dan kemunafikan di dalamnya. Ia berputar pada sebuah poros yang tetap dan jelas : dari Allah dan kembali kepada Allah. Ya, segalanya jelas, sejelas terangnya matahari saat wuquf di Arafah. Politik haji memang bermula di Arafah, bermula di kearifan, di kebijaksanaan. Oleh karenanya, politik haji tak memberikan tempat bagi kebodohan, kepicikan dan kekasaran.

Politik Haji adalah politik non atribut. Atribut telah dilepas sebelum miqat, sebelum niat dilafazkan. Yang ada tinggallah kain ihram putih-putih tanpa jahit. Tak tersisa atribut budaya, pangkat, profesi, atau institusi. Kemenangan hari ini tinggal ditentukan oleh kinerja. Dan itu berlaku bagi Thawaf, Sa’i, Wukuf, Mabit, melempar Jumrah dan sebagainya. Sekali lagi, ini adalah politik tinggi, bukan politik praktis

Terkadang, atribut ritual pun terpaksa harus ditanggalkan ketika ia harus bertabrakan dengan atribut spiritual-maknawi yang lebih esensial. Hasrat mencium Hajar Aswad cukup diganti dengan lambaian tangan ketika resiko menzalimi atau terzalimi berpeluang besar terjadi. Menghindari kerikil kena kepala harus lebih utama daripada melempar jumrah dengan telak tepat sasaran. Bahkan urung naik Haji adalah sebuah pilihan utama ketika tetangga lebih butuh bantuan.

Disadur dari : Adriano Rusfi (facebook)

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s