Keseimbangan : Memang Harusnya Begini


Perhatikan.

DPR ingin bargaining positionnya naik sebagai Partai, dll.

Mahasiswa ingin agar kedaulatan berada pada rakyat (walaupun negara punya mekanisme soal rincian ini).

Dosen Pembimbing memberikan information gap bagi bimbingannya.

Mahasiswa struggling untuk melakukan inquiry sedalam-mungkin tentang topiknya (walaupun mungkin jadi liar dan bercabang)

atau Allah Swt. memberikan dunia tapi juga menyediakan konsepsi Surga dan Neraka

Perhatikan, itu seimbang.

Kalau DPR pundung dan tidak lagi merasa-harus mewakilkan masyarakat, apa jadinya?

Kalau Mahasiswa menyerahkan “randomly” kedaulatan rakyat pada DPRD (dengan realita yang ada, sekarang, 2014), apa kata orang?

*harusnya kepala daerah gak usah ikutan komen ah. Cicing we, padahal mah. Hahaha.

Kalau Dosen Pembimbing memberikan semuanya, ini skripsi siapa?

Kalau mahasiswa tidak berusaha, mengapa daftar kuliah?

Kalau Allah tidak menghidupkan untuk menguji kita, apa gak boring tuh?

Entahlah, menurut saya, memang harus begitu. Itu seimbang kok. Yang jelas, satu-satunya cara untuk seimbang adalah justeru dengan hidup. Tetaplah hidup. Di Bundaran HI, di Kantor, di Senayan dan di Jalan Dakwah.

Apa banjir dan global warming kelihatannya seperti dunia sedang seimbang? Apa via demokrasi sehingga pernikahan-beda-agama dianggap normal ini berarti peradaban sedang seimbang? Atau pendakwah yang tidak menghadapi cacian berarti perjuangan itu on-the-track?

Tapi ‘kan ujungnya adalah definisi keseimbangan itu sendiri, toh? So, keep reading, human!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s