Bukan Karena Aprilnya


Judul asli : Celah Penelitian untuk Model Pembelajaran dengan Role-playing Video Game


Hari ini saya bertemu dengan dosen untuk ceritakan perkembangan skripsi saya, judul saya. Adik kelas saya bertanya mengapa saya lama di ruangan. Hmm, saya sampai detik inipun masih penasaran mengapa judul saya tidak lolos 100%. 1-word ‘failure’, again. Besok saya akan coba lagi. Selagi judul saya belum matang seluruhnya, saya buat blogpost ini.

Model pembelajaran yang telah kita kenal banyak jenisnya. Dari mulai konvensional dengan metoda ceramah yang mencerahkan peserta didik ber-gaya belajar auditori, sampai karyawisata yang merogoh kocek mereka yang haus akan pengalaman empirik pembelajaran itu sendiri. Kita rasanya telah belajar bahwa untuk mengeksekusi satu “unit” Kegiatan Belajar Mengajar yang terencana, semestinya diatur sehingga ia telah berangkat dari satu paradigma pembelajaran lalu model, lalu metoda, lalu strategi sekaligus pendekatan.

Tapi saya coba ceritakan apa jawaban dosen saya tentang judul ini, kurang lebih. Beliau menyatakan bahwa Role Playing Game tidak akan menjadikan peserta didik (atau dalam hal ini objek penelitian) ada dalam satu ruang penelitian yang saya maksud. Sederhananya, Role Playing Game membiarkan siswa menggunakannya (belajar melaluinya) tanpa bingkai instruksi yang jelas dari instruktur alias guru. Dengan multimedia seperti ini, bagaimana guru tahu bahwa siswa akan belajar dengan baik; mungkin ia hanya klik-ini-itu dan restart game ketika ia gagal menyelesaikan tatangan (quest). Hal ini dikarenakan ada celah yang membuat antara pembelajaran dan multimedia pembelajaran sebagai pengganti guru menjadi tidak terikat. Selain itu, beliau menyarankan agar seandainya saya menggunakan metoda Inquiry dengan tidak melepaskan unsur penggunaan multimedia ini, judul saya bisi diterima, sepertinya. Tapi mengapa? Saya sampaikan apa argumen (lanjutan) tentang diskusi tadi siang menjelang sore. Saat ini saya sedang menunggu apa mungkin blogpost ini saya kirim ke surel beliau :-).

Tapi saya tetap bingung.


Influence : kakak saya

Bagaimana mungkin multimedia CRPG (Computer Role-playing Game) dianggap sebagai multimedia pembelajaran  ini membuat siswa belajar sebebas-bebasnya tanpa batasan? Waktu kecil, saya menghabiskan Pokemon Blue dari pagi sampai malam (di waktu libur) untuk menyelesaikan Gym demi Gym karena engagement petualangan pemeran utamanya yang saya tidak bisa jelaskan dengan kata-kata. Ah, ini Nintendo (C), bung!. CRPG pada akhirnya akan membuat sebuah dunia yang diatur sedemikian rupa sehingga pemeran utama harus mulai bermain untuk menamatkan ceritanya. Dunia yang dimaksud, mengapa tidak dipadankan menjadi menjadi Learning Environment?

Bukankah sebuah Game baik untuk kepentingan educational maupun commercial non-educational akan bisa di-restart sesuai kemampuan player? Saya secara terang melihat bahwa selama alur cerita CRPG diatur sehingga pemain tidak akan mendapat apa-apa sebelum ia menyelesaikan satu demi satu potongan cerita. Akhirnya ia mendapatkan hasil pembelajaran yang kita inginkan. Bahkan kalau memang dikatakan bahwa kegagalan pengguna multimedia ini mengerucut pada dua hal : 1) Gameplay yang jelek atau 2) Soal terlalu sulit; lalu mengapa tidak supaya kita diskusi tentang gameplay-nya saja, untuk memastikan metoda belajar siswa terutama pada bagian Battle-mode-nya CRPG ini yang juga sudah saya jelaskan saya tertarik pada Reinforcement Learning-nya AI?

Japan-RPG, mampu memperlihatkan kita bahwa dalam bingkai petualangannya ada satu celah dimana developer bisa membuat “Battle-Mode” nya sesuai keinginannya. Misal, dalam bentuk petualangan, interaksi antara pemain dengan NPCnya bisa dilakukan sebatas mengobrol saja (ini sasaran saya untuk menyajikan konten pembelajaran dalam bentuk teks). Dalam “Battle-Mode”-nya, game bisa diarahkan supaya terjadi pertarungan antara pemeran utama dengan Monster (Monster, ini yang saya hindari dari pengembangan game saya). Nah ini dia peluang di mana developer bisa memodifikasi menjadi “Battle-Mode” dalam bentuk lain. Apakah itu drilling aritmatika, Typing Challange atau yang saya maksud : Reinforcement Learning (Ini sasaran metoda pembelajaran saya).

Sosiodrama, pada buku teks model pembelajaran-pun mengatakan bahwa terdapat kelemahan dalam metode ini; saya singkat. Untuk memecahkannya, harus 1) Harus ada instruksi dan kesamaan niat antara pemain peran dan guru (dan teman-teman siswanya) bahwa mereka akan belajar melalui sosiodrama yang punya masalah yang harus diselesaikan pemeran. 2) Pilihah masalah yang menarik; 3) Instruktur memberikan arahan spesifik terutama adegan pertama dan 4) luasnya bahan pelajaran harus proporsional dan sesuai tujuan awal. Sebentar, bukankah ini unsur Computer Role-playing Video Game?

Padahal sudah saya sampaikan bahwa batu loncat saya bukan di multimedianya, tapi Game-based Learningnya. Oh mama, oh papa. Di posisi saya, saya dipertanyakan unsur pendidikan-yang-menonjol nya dari judul saya. And I was like : “…..selama ini urang ngapain… ._.”. Entahlah saya berani menyimpulkan bahwa saya harus coba lagi; setidaknya jadi debat akademik.

Tiga Bersaudara

Kelihatannya saya perlu memanjakan Ego, tapi juga Superego ini. Saya coba buat dua judul untuk modal menghadap, besok. Satu tetap yang ini, satu lagi modifikasinya. Bukan karena saya dibilang pasti dapat Wisuda di April 2015, tapi saya hobi main CRPG dan saya tahu apa yang saya gunakan sebagai argumen, setidaknya saya sebagai player. Dan saya menyiapkan “pertarungan-ulang” ini sejak berhari-hari yang lalu : 365 hari.

aha
skoring game nya
Drilling, ya?
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s