Apologi Minimal


Melalui ini, saya tidak bermasuk menggugatmu. Saya menggugat mereka.

***

Entah saya mulai dari mana tapi saya (merasa) sudah sampai pada sebuah pemandangan di mana impian-impian dakwah menjadi asa yang terlalu berat untuk direalisasikan. Namun biarkan saya gali argumen saya sendiri; jangan menyerah membaca, saya mohon. Tentang gotong royong. Seperti nama kabinet, dakwah ini memaksa kita untuk bergotong royong semasif mungkin. Bahkan dalam kesendirianpun, ia mesti bekerja dalam konteks gotong royong -secara makro. Kenyataannya, mereka bekerja sendiri-sendiri untuk visi yang mikro.

Gerak yang rapi. Mungkin tak ada yang benar-benar peduli dan menilai serapi apakah kerjasama ini. Tapi kemustahilan kebaikan bisa memenangkan pertandingan jika tanpa kerapi-an pergerakan, sudah cukup jelas kok. Ia akan runtuh dengan sendirinya, karena membentuk struktur yang absurd, dikalahkan oleh kejahatan yang telaten.

Prioritas. Wow, mereka dengan sejuta aktivitas yang sporadis pula, tentu secara otomatis akan mahir dengan manajemen prioritasnya. Atau setidak-tidaknya mereka selamatkan kewajiban pribadi terlebih dahulu; menyisakan urusan-urusan orang banyak. Sampai di titik di mana mereka menyadari bahwa prioritas adalah objek horizontal.

Mereka bilang : passion. Terkadang mereka menyatakan padanya : “ah, passion-passion-apa”. Atau mungkin terlalu tipis perbedaan antara passion, Ruhul Istijabah, dan hobi; sehingga penentu totalitas jadi berubah-ubah, tidak determinan.

Kondisi sosial yang (maaf), menggila. Baru kemarin saya dengar di mana karyawisata sekolah menengah membiarkan siswa laki-laki dan perempuan ada dalam satu kamar hotel. Atau buku panduan yang mengaburkan makna sekaligus membelokkan. Kita tentu belum bahas televisi. Sayapun bergumam dalam bahasa kasar, spontan, dalam hati.

Ekspektasi yang terlalu tinggi. Selayaknya menciptakan sistem baru yang bisa meng-override seluruh keadaan, selayaknya perahu yang diterjunkan dari puncak gunung yang menghancurkan benteng, lalu menilai kerja mereka melebihi siapapun, seperti sulap. Ternyata kayu dan palu saja ia tak temukan. Kecewa.

Keringat yang mengering yang diartikan sebagai tanda berhenti. Bahkan ketika prajurit-prajurit yang tidak cukup pengalaman, dipaksa melaksanakan kerja berat, keringat mereka bercampur perih. Sayangnya, komandan tak paham kondisi nyata prajurut; ugh betapa menumpuk dosanya.

Atau, wacana yang berlebihan dan terlalu sering. Mungkin ini juga menyebabkan “makhluk lain” yang menyenangi mereka yang terlalu banyak berangan-angan.

***

Lalu sampailah kita pada pertemuan antara aktivis-aktivis yang berkontribusi minimal. Yang kebingungan menentukan pengorbanan apa yang mesti disisihkan; yang juga masih kebingungan cahaya apa yang dikejar-kejar; yang kebingungan mengatur semuanya-sekaligus; yang kesulitan menata superego-nya; yang tidak percaya diri atas langkah yang ditempuh; yang sudah mulai lelah berjalan; bahkan yang kelihatannya selalu salah dalam bertindak; atau yang sudah kehabisan persediaan kata maaf. Dan di antara keduabelah pihak, ada yang memilih untuk ke tenggara, ada yang memilih ke barat daya. Untuk sekedar menghibur diri, menyelamatkan diri, dan diam. Lalu berefleksi, bahwa ini belum apa-apa.

***

Maka dari ini, saya sumbang bahan refleksi. Semestinya mereka sadar bahwa beban sesungguhnya ternyata sangat berat. Jelasnya, semestinya mereka telah sadar. Dan jawaban/sikap beberapa jenis manusia ini ternyata lebih menakjubkan :

Di dunia ini, ada yang mati ketika menunggu dihukum cambuk.

Di dunia ini, ada yang mati dan meninggalkan buku coretan dosa yang ia akui.

Di dunia ini, ada yang ditembak sembunyi-sembunyi.

Di dunia ini, ada yang siap dikirim ke balik gunung sekalipun untuk mengisi majelis.

Di dunia ini, ada yang menyisihkan hartanya untuk membiayai hidup banyak orang.

Atau serangkaian fakta lain yang membuktikan bahwa masih ada jenis dari “mereka” yang lain; yang tidak tinggal diam dalam himpitan keterbatasan atau dipusingkan dengan kerja-kerja bersama. Atau justru sempat-sempatnya sengaja menyisihkan banyak hal.

***

Jadi, sesungguhnya pula, lahir dari beban ini manusia-manusia yang pandai mengatur; setidaknya mengatur dirinya sendiri. Lalu selanjutnya mengatur dan memberatkan timbangan pilihan pada apa yang Allah SWT inginkan, secara terbiasa. Berangsur-angsur muncul surplus dana usaha. Lalu juga prestasi akademik yang dikejar dengan ambisi ringan. Atau justru kemenangan-kemenangan kecil….tentang dakwah ini sendiri, yang tak pernah kita kira arah datangnya. Kita hanya perlu membuktikan.

Kita hanya perlu membuktikan bahwa kita masih sinkron.

Sehingga, percayalah bahwa sekecil apapun kontribusinya, ini mesti dilakukan.
Biarlah gotong royongpun menjadi kerja mandiri;
kerapi-an pun dipaksakan;
prioritas pun jadi tertatih-tatih;
passion pun terbata-bata;
kondisi sosialpun kita maklumi;
ekspektasipun dikonversi menjadi visi pendek;
keringatpun kita selamatkan;
wacanapun kita buat sepi namun konsisten
dan maafpun menjadi alat tukar kontribusi.
Toh kita akan sampai juga, insyaa Allah.
Perkara selanjutnya hanya dari dimensi waktu. Karena semakin kecil kontribusi, semakin kecil impact. Semakin kecil impact, semakin lama perubahan tercipta.
Lantas apa kita buru-buru? Enggak.

Namun, berjanjilah bahwa “kekacauan” ini akan terjadi sementara. Dan kita menciptakan penangkal-penangkal kekacauan yang kita buat sendiri, untuk kita-kita juga.

***

Kadang-kadang saya juga jadi mereka. Oh, tidak perlu lagi berapologi. Dakwah tidak membutuhkan apologi. Kita sendirilah yang membutuhkan dakwah. Tentu yang salah adalah tidak merasa salah. Tapi minta maaflah dengan melakukan apa yang masih bisa dilakukan, karena tak ada alasan untuk tidak memaafkan. Jadi, mari agak tidak ke mana-mana, tumbuh bersama dan saling memperhatikan. Tumbuh terlalu cepat juga membuat kita gagal mencerna makna hari 🙂

untuk sanggup mengangkat beban, kita harus melipat-lipat kertasnya

cat : Saya persembahkan untuk kawan-kawan muda-mudi yang sama-sama sedang melebarkan sayapnya cyaelah

Getting colder
Heavy air in my room
The circulator sings a busy sound
Checkered shirt that I left to dry inside
Is swinging under weatherglass now

Leaving this place within a few hours
Will the heat haze mirror all my life ?

Countless journals set on fire light up the night
Sparks that fly up will burn up my lung
Countless journals set on fire light up the night
Sparks that fly up will burn up my lung

Is there hope here ? Forestland full of greed
I only used to wish for one thing
Smoldering love contained in a bottle
Will the heat haze mirror all my life ?

Can we take ?
Can we make
A different future ?
Can we see ?
Can we please ?
Don’t be so immature
Share our night so that you feel all night

Ashes fall
Raining down
Blocking what I see
But I’m still holding
Let us go far away
Share our night and make you feel all right
Look beyond

I will still believe you
No matter what happens
Leaving this place within a few hours
Will the heat haze mirror all my life ?

Countless journals set on fire light up the night
Sparks that fly up will burn up my lung
Countless journals set on fire light up the night
Sparks that fly up will burn up my lung

Can we take ?
Can we make
A different future ?
Can we see ?
Can we please ?
Don’t be so immature
Share our night so that you feel all right

Ashes fall
Raining down
Blocking what I see
But I’m still holding
Let us go far away
Share our night and make you feel all right
Anytime

I remember how it started
My passion never fades away

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s