Landasan


Kemarin, paman datang

ups

Kemarin, saya mengikuti Open House BEM SI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia) -nya Kemenlu BEM REMA UPI. Di sana saya mendapat banyak pelajaran terutama pada bagian diskusi publik walaupun dari kawan-kawan HMI, GMNI, FMN tidak hadir (mungkin sebagian besar kalian kurang tahu soal mereka karena mereka ini adalah ekstra kampus). Dan entah kenapa, dengan latah nya, tiba-tiba setelah diskusi publik itu dan sampai sekarang (waktu setempat), saya jadi ingin mencalonkan diri jadi Presma UPI. Latah, latah.

Yang menarik, di sana dibahas mengenai idealisme pergerakan masing-masing gerakan. Kawan-kawan KAMMI yang mengedepankan amal nyata mereka di masyarakat dan HTI yang kental dengan idealismenya yang melingkupi seluruh urusan hidup & berkehidupan. Masing-masing cantik dengan cara mereka bergerak. Namun bukan pembandingan metoda pergerakan mahasiswa yang saya ingin ceritakan di sini.

Kira-kira beberapa tahun lalu saya pernah mengajukan agar di proposal perizinan kegiatan KEMAKOM, pada landasan kegiatan ada Alquran atau hadits yang menguatkan. It’s kind of Big Step, heheh. Tentu saja, ditolak. Waktu berjalan hingga saat ini, sering saya sarankan agar kegiatan mahasiswa selalu mengedepankan manfaat, anti-hura-hura. Hal ini terkesan kolot, tapi hari ini memang sedang terjadi perang yang nyata antara kemahasiswaan idealis dengan hedonis; antara anak-anak muda yang hobi tunduk serius banget dengan hobi berhura-hura sama sekali. Hingga, berakhir pada campuran keduanya, yang tidak berlebihan satu sama lain.

Patut diapresiasi juga bahwa himpunan kami, Keluarga Mahasiswa Komputer, yang walaupun baru berjalan beberapa tahun telah memiliki cerita masing-masing. Ada yang mengklaim periodenya paling seru, ada yang paling epic, ada yang terkotak-kotak dan lain sebagainya (nb : tentu, saya sedang melihat dari sudut pandang pengurus himpunan). Tidak masalah jika masing-masing pengurus punya inspirasi maupun keluhan masing-masing atas aktivitasnya di himpunan. Ayolah, ini bukan organisasi yang sempurna.

Saya masih ingat ketika ada yang mundur dari perjuangan -itupun kalau boleh saya sebut berjuang- karena alasan sosial; ia merasa sendiri. Ada juga yang menghilang karena motivasinyapun pudar. Ada yang lelah karena semangatnya tidak direspon kawan-kawannya; lantas ia memilih diam. Ada juga yang mencari kesenangan sendiri, dan seterusnya. Bagaimanapun tidak ada yang benar-benar bisa disalahkan karena ini bukan karir profesional.


Perhatikan video pertama ini. Angela menjelaskan bahwa ada yang membedakan siswa yang bisa survive dengan yang tidak. Tentu masing-masing siswa punya tantangan tersendiri (cek Multiple Intelligences). Tapi semuanya bisa “selesai” asal dia punya Grit. Google Translate bilang bahwa Grit ini artinya ketabahan sebagai sinonim dari fortitude, endurance, patience, hardiness, determination. Catat bahwa sebagian sinonim mungkin bisa kita lihat di film kartun jepang, video game, atau kisah hidup seorang ayah / kakek.

Jangan dulu hembuskan nafas, tonton video satunya lagi :


Di video ke dua, Simon mengatakan kita harus memulai segalanya dari why.

**

Waktu perang-perang di zaman Rasulullah (atau sahabat), ketika pasukan sudah selesai menaklukkan wilayah secara kekuasaan, mereka menghentikan perangnya dan langsung membangun daerah tersebut -begitu, kurang lebih. Bahkan pemimpin wilayah itu terkagum-kagum melihat tentaranya yang punya core values yang mantap. Ia katakan bahwa ia baru melihat tentara yang ramah, yang tidak merusak fasilitas dan taat beribadah kecuali tentara yang mengalahkannya saat itu. Aduh, saya lupa ini cerita perang apa yak. Kira-kira nih, untuk orang-orang baik kayak tentara itu, ngapain juga sih mereka ikut perang?

Kita perhatikan dari video tentang Grit tadi. Sebagai seorang anggota / bagian dari sebuah organisasi, kita belajar bahwa inilah yang mesti dimiliki dan diasah. Ini pulalah rahasia programmer sanggup mengerjakan proyek besar. Grit, Mujahadah, Totalitas…perjuangan.

Yang paling mengejutkan, menurut saya, ini enggak cukup.

Masing-masing dari kita mesti punya alasan. Dalam bahasa mahasiswa, mungkin kita lebih sering mendengar dengan kata : Landasan Gerak. Ibarat mau loncat, orang yang gak punya landasan gerak itu ibarat astronot yang tidak sedang berpijak di manapun. Saya perhatikan secara kasat mata, yang bikin anggota organisasi tiba-tiba menjadi terlalu banyak alasan untuk tidak bergerak adalah karena dia lupa akan alasan mengapa ia harus melakukan “ini semua”. Terlalu melankolis? beginilah tipikal notes saya wkwk.

Via Alquran, Allah SWT ingin kita agar kita bergerak secara rapi, (bershaf-shaf). Emang mau ngapain? tentu untuk jadi khalifah fil ardh; sebuah pekerjaan yang gak bisa dikerjakan sendirian doang. Udah gitu, kita mengemasnya dengan ibadah. Jadilah ia sebuah hidup yang spesial karena manusia itu punya kapabilitas Unik / aing pisan dan itu dipersembahkan untuk Tuhannya; bukan demi feedback dari orang lain. Saya rasa, begini pulalah kita di organisasi.

Jadi, untuk siapapun yang membaca dan mendengarkan pesan ini, mari mengingat lagi sebetulnya apa alasan kita bersusah-payah ini. Apakah ia cukup atau perlu ditambahkan? Apakah ia sebuah permintaan? Apakah ia sebuah kata kerja? Apakah ia sebuah persembahan terima kasih? Untuk siapa? Apakah kalau dibuat semacam rantai alasan, berakhir di manakah ia?

Atau jangan-jangan selama ini kita mengira bahwa “Jalan yang Lurus” pada surat Al-fatihah adalah berarti jalan tol?

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Maka, melalui landasan gerak masing-masing, kita jadi nggak ada matinya. Melalui Grit, kita jadi mau berkompromi atas keluhan-keluhan. Melalui pemahaman bahwa masing-masing dari kita adalah mampu-asal-mau, kita jadi berhenti saling tunjuk. Melalui alasan Ibadah lah kita mengemas segala sesuatunya dengan hati-hati. Melalui fakta bahwa semangat orang itu naik turun maka kita jadi saling nyemangatin. Dan melalui permohonan maaf, kita memaksa diri menjadi hebat.

Saya ingin menutup ini dengan sebuah film tentang dua orang kakak beradik yang bercita-cita ingin menjadi Astronot. Kisah yang menarik karena memisahkan keduanya pada jalur yang berbeda. Seorang adik yang sudah di Amerika, dan seorang kakak yang baru saja dipecat. Suatu hari, sang kakak sudah menyerah dari impiannya ke luar angkasa. Lalu sang adik mengingatkan akan rekaman mereka berdua sewaktu mereka kecil. Ternyata betul, adiknya bercita-cita ingin ke bulan. Lebih gila lagi, ternyata sang kakak pernah bercita-cita bahwa ia ingin lebih hebat dari adiknya : ia ingin ke Mars.

Space Brothers. Sang kakak di sebelah kanan.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (110)

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. ”(Ali Imran / 3 : 110)

Kita bisa jadi manusia terbaik, asal beriman kepada Allah, ngajakkin orang biar mau berkarya dan menceganya dari bermalas-malasan. Saya pikir untuk inipula lah mengurus himpunan menjadi bagian dari hidup kita. Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s