Membina Api Semangat Mujahid Muda


Pagi hari ini saya pada akhirnya merasakan bahwa berpengalaman lebih prioritas daripada berilmu saja. Tawaf yang pernah kita ketahui sebatas definisi di bangku sekolah, saat ini raga saya melengkapi verbalisme tersebut. Saya pikir, begini jugalah berpengalaman sebagai Aktivis Dakwah Sekolah.

Saya masih ingat beberapa tahun lalu, ketika saya SMA, saya mendengar ada kawan sesama anak rohis yang jadi lebih sering ‘nongkrong’ di kantin ketimbang di Masjid. Sayangnya kegiatannya ternyata secara kasat mata belum bisa dikategorikan produktif. Atau, ada juga kawan lain yang malah terlibat NII, mencoba rokok, langgeng pacaran, atau bahkan berhenti mentoring. Saya rasa, ada hal yang terlupakan oleh kita.

Di samping itu pula, Alhamdulillah, saya pernah dikelompokkan dengan kawan satu liqo yang aktif di dunia aktivisme mahasiswa, mengusahakan kemaslahatan massa kampus dan menebar manfaat gerakan untuk masyarakat. Namun, apakah ini cukup? Bisa jadi karena kampus terlalu banyak memberikan pilihan bagi mereka yang sulit berpendirian, sebagian anak rohis malah jadi -maaf- sekadar warga kampus yang berbuat untuk dirinya sendiri.

Anggap saja kita sedang bernostalgia. Ingatkah kita akan value yang kita dapat ketika ikut materi mentoring tentang bagaimana muslim di Amerika, Cina atau Spanyol ketika menunjukkan identitasnya sebagai Muslim? Ingatkah kita value yang diberikan mentor ketika kita ada di simulasi mewawancarai pedagang rokok akan haramkah rokok sebenarnya? Ingat pulakah kita value yang kita dapat ketika mengerjakan Sanlat (Pesantren Kilat) Ramadhan dikala bershaum? Ingatkah kita value ketika kita menalar pemerintahan di Turki saat ini, akan kebijakan dan pelayanan publiknya yang luar biasa?

Sebetulnya, saya rasa kita ditanami benih Ma’rifatul Islam, Ma’rifatul Dakwah, Amal Jamai, dan Syumuliyatul Islam. Setidaknya, dalam bahasa…gaul.

Api semangat yang ada dalam jiwa adik-adik mentor sebetulnya tidak perlu lagi kita buktikan. Bagaimana tidak, kita sendiri telah mengalami masa tingginya semangat belajar ketika jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Atau, seorang anggota pemula ekskul Rohis yang terpaksa konflik dengan teman sekelas dan orang tuanya hanya karena mendakwahi mereka dengan metoda yang belum tepat. Apalagi candu bagi mereka yang tidak pulang seharian karena bermain Game Online. Itu dia, yang dalam kata lain disebut Antusiasme. Energi ke dua pasca sekolah dasar sekaligus modal Jihad.

Ke manakah harta akan dikeluarkan saat seorang eksekutif muda berwirausaha, di urusan apa saja keringat seorang pembuat kebijakan publik negara akan dikucurkan, dan kapan darah seorang da’i mesti dikorbankan demi tegaknya Islam dan demi dasarnya orang-orang bahwa Islam ini…harum? Jawabannya ada di aktivitas dakwah sekolah, saudara-saudara. Jika muda adalah jiwa, maka aktivisme harus berstatus permanen, “keanggotaan seumur hidup”! Allahuakbar!

Kembali pada kenyataan yang saya paparkan di paragraf ke dua dan tiga, bahwasannya ya, hidayah memang bukan urusan kita. Namun ingatlah bahwa Allah jeli dalam membedakan siapa saja yang turut berperang di jalan Allah. Maka, untuk alasan inilah api semangat mereka mesti kita bina.

Suruhlah mereka turut berjihad di urusan akademik. Halangi mereka ketika akan menyerah di jihad kewirausahaan. Ajari mereka strategi jihad di Kemahasiswaan. Suatu hari, kita mungkin tidak lagi bertemu mereka lagi. Namun, menurut penulis yang lemah imannya ini, mari berikhtiar agar mereka bisa hingga membina setidaknya satu kelompok liqo, berbagi Api Semangat…yang sama pada anak-anak terpelajar hari ini dan seterusnya.

Masjidil Haram, 20/06/13 (8:18 waktu setempat)

@eduardoxmenezes

tulisan ini tadinya mau dibuat antologi bareng anak-anak UI, tapi gak tau ding

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s