Benang Merah Ide Pengadaan Teknologi Keamanan Demi Kejujuran UN


*tugas kuliah*

Image
A. PENDAHULUAN
Ujian Nasional (UN) merupakan salah event yang dinantikan oleh seluruh siswa sekolah formal dari berbagai jenjang di Indonesia. UN juga merupakan penentu lulus tidaknya siswa sekolah dari sekolahnya, walaupun terdapat perbedaan komposisi perolehan nilai UN untuk tahun ini. Berbagai jenis persiapan selalu diselenggarakan oleh sekolah demi mempersiapkan siswa dari sisi akademis maupun moralnya. Pemantapan demi pemantapan diselenggarakan tidak lain untuk memantapkan persiapan siswa itu sendiri hingga nanti pada saat UN sedang berlangsung, siswa akan mampu mengerjakan soal yang disodorkan pada lembar soal UN.    Fenomena ketidakjujuran pada UN masih saja terjadi di sekolah-sekolah. Contohnya pada saat UN yang penulis alami. Masalah ketidakjujuran ini seakan dipendam oleh siswa sehingga masalah ini malah menjadi hal yang lumrah. Beberapa teman-teman penulis memang menyengaja datang sangat pagi untuk menerima ‘jarkom’ jawaban soal UN. Walaupun ada pula yang datang sangat pagi untuk menghafal pelajaran yang akan diujiankan. Namun jika perbuatan curang itu dan variasi lain darinya terus menerus dibiarkan tanpa usaha pencegahan yang nyata, jangan-jangan di masa depan pelajar Indonesia tidak akan memiliki kreatifitasnya masing-masing.

B. ISI
1. Pengalaman
Suatu hari di UN SMA yang pernah penulis alami, tahun 2009, di depan sekolah sejak pagi sudah diparkirkan mobil dinas polisi. Hal ini cukup mencengangkan karena sebelumnya penulis sempat berfikiran bahwa sekolah tidak serius mengenai penambahan keketatan prosesi UN. Ternyata tidak tanggung-tanggung, polisi-pun diundang untuk memperketat pelaksanaan UN waktu itu. Kontan saja suasana di kelas berubah dari santai menuju cemas karena mereka lebih dahulu mengetahui keberadaan mobil polisi (karena mereka datang lebih pagi dari penulis). Bahkan ada teman saya yang sudah putus asa karena tadinya dia sangat mengandalkan kunci jawaban. Ternyata pada saat jamnya, polisi yang kami kira itu akan memperketat proses UN tidak masuk ke kelas sama sekali. Otomatis kecurangan di kelas-pun terjadi lagi. Keberadaan polisi-pun hanya sebagai “sambel penggertak” saja.

2. Ide
Sebenarnya ada satu jenis cara apabila kita ingin mewujudkan kejujuran pada siswa, yaitu dengan melakukan pengadaan teknologi keamanan. Teknologi kemanan yang sering kita lihat di mall, bandara pesawat dan tempat umum lainnya sebenarnya bisa kita gunakan juga pada sekolah, terutama pada proses UN sedang berlangsung. Teknologi keamanan yang mengedepankan fasilitas, efisiensi dan ke-murah-ah sudah semakin banyak. Berikut adalah ide untuk meningkatkan integritas pengerjaan UN :
– CCTV yang dimonitori oleh guru pada ruangan lain dipasang pada tembok belakang kelas.
CCTV (Closed Circuit Television) atau dalam bahasa Indoneisanya yaitu Televisi dengan Sirkuit Tertutup adalah perangkat pengwas yang memonitor keadaan sekitar dengan kamera pengintai yang terdiri dari kamera dan sistem DVR (Digital Video Recording). CCTV memiliki kamera yang akan mentransimisikan image video ke tempat yang spesifik dan jumlah televisi yang terbatas. CCTV merekam secara realtime, dilengkapi pula dengan perekam suara. Network Camera adalah salah satu teknologi yang menghubungkan CCTV dengan komputer. CCTV terbukti sangat efektif merekam keadaan sekitar yang biasa digunakan sebagai barang bukti untuk hal tertentu, misalnya bukti kasus pencurian di supermarket atau kasus pengeboman sekalipun. Jika alat ini dipakai pada setiap kelas maka guru akan bisa menandai siswa yang melakukan kecurangan.
– Penambahan sensitivitas pemeriksaan lembar jawaban komputer.
Dengan begini, siswa akan dipaksa untuk teliti dalam mengisi jawaban yang dia pilih di lembar jawaban. Salah satu produk yang pernah penulis lihat di internet adalah Digital Mark Reader (DMR). Scanner ini bisa digunakan untuk berbagai jenis pemeriksaan dalam bentuk kertas HVS, terutama pemeriksaan jawaban dengan menggunakan pensil 2B. Dengan kecepatan pemeriksaan yang tinggi dan kualitas hardware yang baik, jika ada anggaran untuk mengadakan alat ini, sekolah akan dimudahkan dalam pemeriksaan lembar jawaban komputer. Scanner lain juga tentu menyodorkan keuntungan dan kualitas yang berbeda, tentunya.
– Pematian sementara jaringan handphone untuk menghindarkan tersebarluasnya jawaban melalui handphone.
Biasanya, penyebaran “jarkom” kunci jawaban sebuah mata pelajaran UN bahkan telah tersebar bahkan sejak semalam sebelum mata pelajaran itu diujiankan. Berarti jika ingin menggagalkan penyebarluasan kunci jawaban, jaringan handphone tersebut harus dimatikan sementara dari providernya. Hal ini bisa dilakukan dengan cara melakukan persetujuan dengan provider handphone untuk mematikan jaringan sinyalnya pada wilayah sekolah.

Jika biaya masih menjadi alasan, berikut adalah ide lain yang bisa dipraktikkan pada sekolah :
– Pada setiap kelas ditambahkan tenaga pengawas yang menjaga setiap satu baris vertikal di dalam kelas.
– Adanya pemeriksaaan barang bawaan setiap sebelum siswa memasuki ruang UN untuk memeriksa jika siswa membawa kunci jawaban atau membawa alat komunikasi yang memungkinkan siswa melihat kunci jawaban.
– Pengawalan siswa dari sejak gerbang sekolah hingga ruang UN.
– Adanya pemeriksaan ruang kelas setiap pagi untuk menghindarkan tersebarluasnya kunci jawaban non-handphone (tidak melalui handphone).

3. Benang Merah
Melakukan pengadaan teknologi kemananan yang ketat untuk mewujudkan integritas pada Ujian Nasional tidak hanya berdampak pada keketatan proses UN saja namun pada mental peserta UN juga. Penulis sangat yakin proses UN akan sangat ketat dan ketidakjujuran akan terminimalisasi jika fasilitas yang telah dipaparkan sebelumnya direalisasi. Namun, bayangkan jika ide pengadaan fasilitas yang penulis paparkan sebelumnya dilaksanakan pada setiap sekolah, siswa yang mengandalkan kunci jawaban akan ‘pingsan’ sebelum ujian dimulai. Namun hal ini tetap saja tidak membuat siswa yang tidak mengandalkan kunci jawaban akan menjadi tenang dalam pengerjaan soal UN. Artinya, ada satu hal yang kita lupakan dari ide ini yang tidak dibangun secara total sejak awal Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas, yaitu suasana kejujuran.
Suasana kejujuran harus diterapkan sejak siswa masuk sekolah pertama kali, di mana guru yang mengajar di kelas senantiasa mengingatkan dan menyadarkan pentingnya kejujuran pada setiap siswa. Di samping itu ditanamkan pula rasa percaya diri yang disandingkan dengan ilmu yang cukup pula pada siswa itu sendiri. Kombinasi antara usaha pengajaran secara keilmuan dan moral yang dilakukan oleh guru, plus pemercayadirian siswa dalam mengekspresikan kemampuan secara keilmuan dan kreatifitasnya akan menjadi usaha yang tepat untuk mewujudkan kejujuran pada proses UN.
Sayangnya, bahkan dalam proses belajar mengajar selama tiga tahunpun, kegiatan mencontek atau variasi lain darinya selalu dianggap sebagai hal yang biasa. Parahnya, kegiatan itu jelas-jelas menunjukkan perbedaan perolehan skor yang signifikan antara siswa yang curang dan yang tidak curang. Hal itu juga malah membuat siswa yang bekerja-sendiri merasa inferior terhadap mereka yang tidak-bekerja-sendiri. Jika ini dibiarkan, harapan yang inginkan malah akan berbalik alias kecemerlangan akademis siswa hanya akan ada pada siswa yang curang.

4. Pelajaran Terlalu Banyak
Keluhan mengenai jumlah pelajaran yang diujiankan adalah salah satu alasan para siswa berlaku curang. Mereka menyerah dan mengandalkan kemampuan luar dirinya agar mendapatkan hasil akhir yang sangat memuaskan.Sangat memuaskan. Padahal jika kita lihat dari prespektif pendidik, tujuan penyelenggaraan keseluruhan mata pelajaran yang diajarkan itu bukan untuk dikuasai seluruhnya, melainkan menggali potensi sebenarnya dari siswa. Dengan kata lain, kurangnya nilai siswa akan satu mata pelajaran dianggap sebagai hal yang wajar, jika siswa memang berusaha sekeras mungkin mencapai nilai baik untuk mata pelajaran itu, dan secara tidak langsung menyimpulkan bahwa siswa tidak bisa menggunakan potensinya pada mata pelajaran itu. Sayangnya kebanyakan siswa terlalu khawatir akan hal ini.

5. Usaha Nyata
Penulis yakin guru dan seluruh warga sekolah tidak setuju jika kecurangan ini dibudayakan. Pemantapan demi pemantapan, tambahan demi tambahan, nasihat demi nasihat diberikan tidak lain agar siswa bisa menjadi pribadi yang diharapkan sekolah. Namun, sekali lagi, masih terjadinya kecurangan ini menunjukkan kurang seriusnya sekolah dan siswa menangani masalah kecurangan ini. Padahal dampak negatifnya bukan hanya ada pada resiko yang diambil jika ternyata jawabannya salah, melainkan citra sekolah, citra pengawas yang tidak berhasil mengawasi proses UN dan citra siswa itu sendiri karena mengurangi kepercayadirian dan orisinilitas kemampuannya mulai dari sekolah hingga ke lingkungan masyarakat. Belum lagi jika penulis hubungkan dampak negatif ini dengan dosa yang “ditumpuk” pelakunya.

C. PENUTUP
Jadi, bukan karena pengadaan “teknologi keketatan” pada proses UN-lah yang kurang, melainkan suasana kejujuranlah yang mesti dibangun, ditingkatkan dan dipertahankan sejak proses KBM sehari-hari agar kecurangan pada proses UN hilang. UN yang telah berlangsung baru-baru ini seharusnya kian tahun kian menghasilkan generasi terpelajar yang semakin sadar bahwa di masa depan, Indonesia akan membutuhkan pelajar dengan ciri khasnya masing-masing serta ditantang kreativitasannya untuk berkontribusi bagi negara, agama dan dirinya sendiri. Dengan begitu, justru, pengadaan teknologi pada proses UN sudah tidak diperlukan lagi karena siswa sudah menghindari kecurangan itu atas kesadarannya sendiri, berlandaskan pada kemampuannya sendiri. *tambahan : setelah Ridha Allah SWT*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s