The Worst Case


Siang ini, sepulang dari survey sebuah acara pada amanah di masa-masa akhir hidup saya di kampus, saya telah berjanjian untuk bertemu dengan sahabat saya. Saya baru sadar mengapa ia menunda-nunda hingga hari ini. Pembicaraannya dalam, ternyata.

Dia telah bersahabat dengan saya sejak SMP. Dan hingga kini aktif di sekolah, bersama. Tadi siang menandai bahwa ia akan beranjak ke tempat lain; rencana lain; masterplan hidup yang selanjutnya.
Setelah berdiskusi banyak tentang program yang sedang ia jalankan bersama kawan-kawannya, dia menutup dengan sebuah pernyataan tentang siapa yang akan menjadi penggantinya. Ia juga mengingatkan saya tentang ada kawan seperjuangan yang telah 9 tahun di dakwah sekolah ini, di tempat yang ‘sama’.

Di semester yang mana ini adalah biaya SPP terakhir saya, saya masih menyempatkan diri untuk mengerjakan yang lain-lain. Karena toh fokus skripsipun, bagi tipikal lelaki seperti saya, tidak akan menjamin kebermanfaatan secara optimal dari diri saya. Saya teringat dengan angkuhnya saya bilang pada pengganti saya di BEM REMA, “gawekeun saya.., gawekeun saya…” (pekerjakan saya, pekerjakan saya). Terus terang saya khawatir saya malah jadi kontraproduktif di akhir masa kuliah ini, dan tentunya ada bumbu-bumbu ingin melakukan semacam pembuktian.

Ternyata inilah energi satu-satunya saya selama ini. Hal inilah yang membuat saya merasa tidak akan pernah beranjak dari sofa dunia ini (Ericka, pinjam yaa); tidak akan pernah ke mana-mana; lalu saya mengeklaim bahwa saya totalitas. Dalam bahasa lain, saya mengasumsikan bahwa saya “tidak akan pernah mati”. Celakanya, saya jarang memikirkan soal regenerasi.

Barusan dia telah berbicara soal karir, regenerasi dan plan jika dia telah ke Jakarta menjadi seorang konsultan.
Sementara saya masih berpikir soal tugas-tugas publikasi acara, delusi soal Senayan dan pendirian sekolah. Banter-banter soal #salahFokus.
Saya tidak pernah berpikir soal worst case.

Andrean, (dan yang lainnya) sukses ya! You have thrown your own Sky Anchor, so climb it, maan.

Ugh, kolot sekali tulisan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s