Jurnal, Kontemplasi

Get a Grip, man!


Miskin yang paling bete adalah ketika ini. Manyun yang paling monyong adalah ketika ini. Sedih yang paling pilu adalah ketika ini. Galau yang paling dilematis adalah ketika ini.

Futuur.

Saya pernah merasakan tipikal kejadian seperti ini :

Saya harus berangkat rapat padahal belum selesai amanah saya. Saya harus ngementor padahal materi masih nol. Saya harus kuliah padahal belum baca sama sekali. Saya harus menyelesaikan tilawah padahal milestone masih jauh.

Saya jadi ingat nasihat yang keluar dari saya sendiri pada adik kelas saya yang mengalami kendala-kendala perjuangan; saya bilang : Face it.

Ini berlaku untuk kasus tadi. Pada akhirnya saya berangkat saja karena amanah ini kerja tim. Pada akhirnya materi mentoring mengalir begitu saja. Pada akhirnya saya mencatat banyak dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan di kelas. Pada akhirnya daripada berdelusi mengkhattamkan melalui perencanaan yang terlalu rumit lebih baik cicil saja. Semua kabar baik insya Allah terjadi ketika saya memilih untuk : berangkat. Atau lebih tepatnya : “berangkaaat!“.

Kadang-kadang, kita #terlaluBanyakVariabel untuk bangkit. Padahal mah bangkit mah bangkit saja. Bangkit dari futuur selain memang meminta perlindungan-Nya, ya mesti hadapi, paksain, menyengajalah; dan buat pegangan. Mungkin terlalu ngejago untuk mengcounter futuur dengan ibadah yang kompleks. Makanya, lakukan apa yang termudah dan jadikan pegangan.

Selebihnya, barulah bisa progresif lagi.

grip

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s