Hikmah Nyasar


Saya menulis notes sebelum berangkat ke Tasik kemarin, di nikahannya kang adam.

Walaupun berakhir dengan salah fokus, saya menangkap hikmah tertentu ketika hubungannya dengan perjalanan. Tapi mari bercerita secara induktif.

Saya sering nyasar, tapi ada sebabnya. Misalnya, ketika berangkat mencari toko di sekitaran rancaekek. Saya menggunakan google maps untuk memastikan ada di daerah manakah tempat yang saya tuju. Dengan yakin, setelah saya mampir ke warnet waktu itu, saya langsung tancap gas ke daerah yang dimaksud. Saya susuri berdasarkan nomor rumahnya. Sebetulnya saya sudah tahu bahwa nomor-nomor rumah di Bandung ini sering tidak disiplin apalagi yang tepat di pinggir jalan dan non kompleks perumahan. Tapi saya bersikeras menyusuri..bolak-balik..dan seterusnya. Terang saja, ini menghabiskan waktu. Tapi memang ada yang salah.

Atau, ketika berangkat pulang dari Garut ke rumah ketika P2M himpunan. Waktu itu, sore-sore, saya bersama rombongan akan pulang ke kampus. Saya dan beberapa laki-laki sejati naik motor. Seperti biasa, saya naik motor tanpa boncengan, like a boss. Ngeeengg~~~ sampe ke daerah garut coret, ada belokan (yang saya namai “belokan signifikan”). Belokan signifikan berarti jika salah ambil, kita bisa nyampe ke Jakarta hahahaha #naon. Pokoknya belokan yang mesti benar. Sebelumnya, saya mengepinggirkan motor bersama penunggangnya ke pinggir jalan depan toko karena hujan. Tertinggal-lah saya dari lelaki sejati lain. Nyaris magrib, saya tancap saja selagi sudah gerimis. Ngeeeenggg~~~~ bertemu belokan signifikan dan ambil kiri (atau kanan, lupa). Lalu ada yang aneh. Campur baur antara pemandangan nyaris maghrib dengan deja-vu, saya merasa pernah melawati jalan itu. Lalu saya berhenti ke pinggir; dan putar balik arah. Baru bertanya pada orang sekitar, “Bandung nyandak jalan nu mana, a?”. Ternyata saya simpulkan bahwa saya telah berputar ke arah garut lagi ketika salah ambil belokan. Ada yang salah dengan mental begini. Tapi lumayan, saya menghabiskan sekian album karaoke selama di jalan, and it’s feels good, maan.

Tapi dari seluruh kisah nyasar saya, saya tetap pulang ke rumah, tidur di kasur seperti biasanya, dan menyempatkan menulis blog ini.

But, how it feels, being lost? Sometimes good, often…not. Or precisely, for our perspective it’s freedom. From Allah’s perspective, we are definitely lost.
You know, being nobody in nowhere.. being a real WEAK human.

Ketika dalam keadaan entah-ke-mana, seringnya saya selalu merasa akan-ke-mana. Kadang-kadang Allah menggunakan cara ini untuk menyadarkan kita; coba ingat bagaimana Allah mengunci hati seseorang yang mengingkari ayat-Nya. Saya terlalu percaya diri bisa hidup tanpa bertanya. Mirip ketika tiba-tiba ban bis kami pecah ketika #umrohSuper kemarin; di setengah perjalanan dari Madinah menuju Mekah. Kita terlalu yakin hanya dengan usaha kita, kita akan sampai pada puncak yang kita maksud : cita-cita, harta, tahta dan utopia lainnya. Sayangnya, tidak dilibatkan Allah padanya. Allah tidak dijadikan sandaran pertama hidup kita, maka tersesatlah kita.

Berada pada tempat yang entah di mana, menjadi selemah-lemahnya makhluk. Ini tentang dunia, bro.

Terakhir. Ternyata kebahagiaan hakiki sesungguhnya ada pada ketika saya sampai di rumah, bukan ketika perjalanan. Nah, ini tentang kematian.

Lebih terakhir lagi, melakukan perjalanan jadi lebih seru ketika bersama-sama, kadang-kadang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s