Kampus, Kontemplasi, Organisasi

Lalu Semua Hening


Pada suatu saat di acara osjur (ospek jurusan) di ITB, ada sebuah adegan yang tidak terlupakan oleh adik kelasnya teman saya, termasuk teman saya sendiri. Osjur di sana cukup identik (menurut saya) dengan acara yang bernuansa tegang dan tentu saja, massal.

 

Mereka (mahasiswa baru) dikumpulkan, dipejalkan di satu area yang sama, dibariskan. Danlap yang katanya sering menyebut dirinya “aku” memberikan macam-macam instruksi.

Instruksi yang (karena tuntutan “profesi”) harus disampaikan dengan lantang itu cukup bersahut-sahutan karena dicampur orasi. Lalu adzan ashar terdengar dari arah Salman (Masjid di ITB).

 

Kelantangan suara danlap mengalahkan suara adzan karena jarak antara area pengumpulan dengan Salman juga jauh.

“Asyhadu’anna Muhammadarrasulullah~..”

“BLABLABLABLA! BLABLABLABLABLA”

Suara adzan masih dikalahkan oleh orasi.

“Hayya’alasshalah~..”

Masih berisik dengan orasi.

 

Tiba-tiba, sang pemeran utama (adik kelas teman saya) mengacung.

“BLABLABLABLA! BLABLABLABLABLA”

Ia masih mengacung.

“BLABLABLABLA! -”

“Kak! Adzan telah tiba!”

“Blablabla. Baik kita diam sejenak………….”.

Keributan kecil tersisa di peserta yang membicarakan betapa “lancangnya” mahasiswa baru yang satu itu. Sebagian panitia diam.

“Kak! Adzan bukan menyuruh kita diam!”

Lalu semua hening.

 

*saya lupa lagi lanjutannya*

 

Katanya, di beberapa perusahaan di negeri ini ada yang tidak sempat mempertimbangkan kebiasaan peribadatan karyawan-karyawannya yang kemudian dijadikan peraturan tertulis di dalamnya. Seorang muslim yang minder tentu saja tidak berani mengadvokasi kebijakan (–> lalu peraturan) tersebut, apalagi meninggalkan nikmat karir “hanya” untuk tetap menjadikan seluruh detil hidupnya dalam koridor Islam. *Wuih sebuah kontemplasi besar bagi diantara kita yang bahkan untuk mengucap “Assalamualaykum” pada sesama muslim saja masih malu.*

 

Pengetahuan kita mungkin masih sedikit untuk mengenal indahnya Islam pada kehidupan (keperluan) manusia sekaligus tegasnya perintah ke-tundukan manusia pada Allah Subhanahuwataala. Semoga kita dikaruniai jalan menjadi orang seperti itu.

 

Ada hal lain yang saya lihat di cerita teman saya tadi. Ada kebanggaan sebagai seorang muslim di balik interupsi pada orasi itu.

Ada keberanian yang mantap dibalik interupsi ke-dua itu.

Tentu, jangan lantas menirunya mentah-mentah. Akan selalu terdapat banyak cara untuk mengingatkan seseorang agar kembali pada keislamannya; dan salah satunya adalah interupsi pada orasi tadi hehehe.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s