Reinkarnasi yang ke Dua


Saya sangat buru-buru hingga tidak memerhatikan bahwa sesuatu yang berharga telah hilang tanpa memberitahu. Sekitar tahun kemarin, saya bisa kenal dengan sebuah keluarga yang bertempat tinggal tidak terlalu jauh dari rumah saya sekarang. Mereka adalah keluarga yang memiliki anggota keluarga yang sangat baik, semoga Allah memberikan keberkahan untuk keluarga itu, dan yang satunya lagi.

Handphone saya terjatuh di jalan tanpa sadar. Saya sangat buru-buru waktu itu. 50 km/jam sudah terlalu cepat untuk daerah perumahan rumah saya sekarang. Jaket merah favorit yang saya kenakan waktu itu tidak memiliki saku yang mampu menggenggam handphone saya jika ditandingi dengan kecerobohan saya sendiri.

Saya putus asa ketika saya cari di tas, saku, sepatu, ternyata tidak ada handphone -second- yang saya beli waktu di sekolah menengah itu. Saya tidak bisa berkomunikasi karena keadaannya lebih parah dari status ini, dulu :

[Eduardo : Habis pulsa, koordinasi sangat lumpuh. Benar-benar lumpuh.
Maaf besar ya, rekan-rekan mahasiswa! (Fri, 26 Nov 2010 06:11:17 GMT)]

Hingga esoknya (atau kapan ya, saya lupa), ada kakak kelas saya yang menerima telepon dari nomor handphone saya. Kebetulan sekali hari itu saya ke kampus dan langsung dipanggil oleh kakak kelas saya. Dia memberitahukan agar saya berkunjung ke rumahnya di X C2 (“X” adalah nama).

Saya sumringah dan langsung bergegas ke sana tanpa ragu, beres kuliah. Sesampainya di gate X, saya bertanya pada satpam rumah no C2, ditunjukkan arahnya dan saya cari. Berkat kelemahan saya dalam mencari alamat, saya tidak menemukan rumahnya. Saya bertanya pada rumah di blok sebelum C, lalu ditunjukkan pula rumahnya. Saya berputar ke blok lain, dilihati satu persatu, ternyata tidak ada. Saya sempat menanyakan pada rumah yang tadi untuk yang ke dua kalinya, lalu saya cari namun tidak ada rumah dengan nomor C2. Saya juga sempat nekad ke perumahan lain blok lain nomor lain tapi terlalu jauh. Saya pulang dengan keputusasaan.

Ibu saya sampai-sampai mengasihani saya (dengan sedikit berlebihan) karena dia mengira semua data penting ada di handphone, padahal tidak juga. Saya hanya ingin saya tidak jadi orang yang tidak apik lalu tidak peduli atas semua barang saya. Akhirnya ada rencana untuk membeli handphone baru.

Eh, saya berubah pikiran deng. Saya mencoba menelepon nomor itu, daaaan ……….. diangkat!. Percakapan saya dengan bapak-bapak itu intinya untuk menanyakan rumahnya di X C2 atau bukan. Dan dijawab dengan alamat yang sama.

Esoknya saya ke sana lagi dan berdiam di depan blok C. Lalu saya nekad untuk mengetuk rumah yang saya sendiri tidak terlalu yakin apa itu benar rumahnya.

“Assalamualaykum!”, kata saya.
Muncullah ibu-ibu dari dalam rumah dan berkata “Waalaykumsalam!, ini yang hilang hape ya?”

Saya langsung senang karena kenekadan saya terbayar.
Saya masuk dan dipersilakan duduk.
Ibu itu menjelaskan dia menemukan di mana (tepatnya di pinggir jalan). Saya memperkenalkan diri, memohon maklum atas kecerobohan saya namun tidak memberi imbalan apapun. Di rumah saya tidak ada siapa-siapa, uang saya tidak seberapa. Lalu saya berpamitan dengan malu yang saya simpan di muka. Rumah keluarga ini tidak terlalu jauh dari rumah saya sekarang, namun saya belum pernah bersilaturrahim ke sana.

———————————————————–

Jumat, tanggal 24, saya hilang handphone lagi.

Saya membeli martabak di tamansari untuk kawan-kawan mentoring saya, tapi dengan rasa favorit saya hehehh. Seperti biasa, untuk menjaga agar besouro -motor saya- tetap bisa diterbangkan langsung seselesai saya mentoring tanpa menunggu penjaga gerbang, saya parkirkan ia di gelap nyawang. Saya lari ke dalam masjid dari tempat parkir karena teman saya akan datang untuk sekian lamanya dia tidak datang mentoring. Sesampainya di dalam masjid salman, saya menemukan Agung yang sudah menunggu lama, sepertinya. Ya, saya datang terlambat. Agung membantu saya membersihkan papan tulis (karton tulis, belakangnya schedule board) dengan alkohol yang dia bawa (wow seram kk). Tapi ya sudahlah, saya langsung gabung shalat isya dahulu.

Selesai shalat, saya culang-cileung untuk melihat apakah ada kawan-kawan saya. Ada Andre yang menyalami saya dan seperti biasa, dia setor muka dahulu lalu ke sekre kesayangannya setelah itu. Beberapa menit kemudian saya lihat ada sosok berbadan besar masuk masjid. Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah, mereka berdua! Dan yang paling mencengangkan yaitu…. mereka berdua adalah kawan mentoring saya sejak SMP, yang sudah lama tidak mentoring HAHAHAHAH! Dwiky dan faisal! Jougrass! (heheh)

Mereka shalat terlebih dahulu, agung ke luar masjid untuk bertemu alumni, lalu saya duduk di belakang kawan-kawan besar saya itu. Selesai mereka shalat, saya bercengkerama sejenak menanyakan kabar, lalu mentor saya datang dengan lahir dan bathin yang tepar.

Tidak lama kemudian, karena mati gaya, saya iseng mencoba bermain handphone. Di jaket, di saku, di tas ternyata tidak ada! Lalu saya bergegas ke tempat shalat tadi untuk mencari, ternyata tidak ada juga!. Saya agak panik dan langsung menyusuri jalan sebelum ke masjid layaknya spongebob yang lupa menaruh kartu nama. Saya bergegas ke parkiran sambil ghadul bashar dengan harapan ada handphone di tengah jalan. Saya tanya ke tukang parkir, mereka bilang memang tidak ada handphone di rak besouro atau di sekitarnya.

Saya balik lagi ke masjid dengan cara yang sama. Ke dalam masjid dan mencari ke tempat yang sama, namun tidak ada. Dwiky sempat membantu melakukan misscall kepada nomor handphone saya. Ada yang mengangkat, tapi ditutup. Dicoba lagi, tidak diangkat. Saya baru ingat ternyata batere handphone saya memang sekarat. Saya balik lagi ke motor sambil meminjam handphone dwiky dan terus mencoba menghubungi.

Lalu handphonenya diangkat, lalu diperdengarkan lagu dangdut (atau pop?), namun tanpa dialog sedikitpun. Saya sangsi lokasi handphone ini ada di warung di gelapnyawang. Saya berdiri di depan gelap nyawang, tapi bingung harus mencari ke warung yang mana. Apakah harus dicari dengan depth atau breadth search (wtf!). Saya memutuskan untuk mengendarai besouro dan bergegas ke tempat martabak sambil tetap ghadul bashar siapa tau ada di jalan raya. Sesampainya di tukang martabak, dengan logat jawanya, dia bilang

“wah ndak ada hape mas dhi sini!”.

Saya lemas dan langsung mengambil kesimpulan bahwa handphone saya memang sudah di tangan orang yang tidak akan pernah mengembalikannya hingga lebaran kingkong sekalipun.

Saya mentoring dengan mood yang tersisa, lalu pulang, lalu pasang status. Saya mendadak berkoordinasi dengan banyak orang karena memang banyak yang harus di-SMS. Padahal biasanya saya sangat malas meng-SMS -i orang-orang. Di jejaring sosial itu saya cukup banyak me-mention orang, dari mulai kawan di kampus hingga adik mentor.

Esoknya, ada kawan di kampus saya yang mengaku dihubungi nomor handphone saya tanpa dialog yang jelas. Saya sempat merasa plong dan bebas tanpa handphone selama kurang lebih 24 jam (hehehe), sekaligus merasa kerepotan karena harus koordinasi dengan orang-orang tanpa handphone.

Esoknya lagi (minggu), ada lagi kawan di kampus yang mengaku dihubungi, namun dengan pesan bahwa saya bisa mengambil handphone saya.

YEAAAH!.

Malamnya saya SMS-an dengan nomor saya sendiri kayak orang gila, namun memang dibalas. Saya harus ketemuan dengannya di depan kebon binatang. Ba’da isya saya berangkat ke sana. Sebelumnya saya pergi ke tukang martabak kemarin lusa untuk membawa martabak telor sekedar tanda terima kasih.

Saya tungguiiiin aja lama di depan kebun binatang, lalu menelepon handphone saya. Lalu bapak-bapak di handphone saya bilang bahwa saya harus ke “Bakso Super, Cihampelas”. Saya ingat-ingat sepertinya memang tidak pernah ada yang namanya bakso super di cihampelas. Tapi saya coba ke sana. Saya jalan memutar, ke siliwangi, ke perempatan ciumbuleuit, lalu ke depan mall yang tidak pernah jadi di cihampelas. DAN MEMANG TIDAK ADA YANG NAMANYA BAKSO SUPER. Wuah putus asalah, saya.

Saya berpikir sepertinya saya harus recoverying nomor handphone saya, ke butik di jalan dago. Sebelum sampai di sana, saya sempat ke depan kebun binatang dan galeri di pintu masuk kebun binatang, lalu mencari BAKSO SUPER lagi, tapi tidak ada. Lalu saya lanjutkan ke dago. Sesampainya di borromeus, saya menerima SMS lagi yang memberitahukan alamat lengkap rumah bapak-bapak itu. Meluncurlah saya ke kebun binatang lagi.

Saya telusuri ke jalan ke bawah sebelum kebun binatang dan menemukan jalan “Taman Hewan” yang baru saya dengar kali itu (Saya sempat suudzan kepada bapak itu karena mengira bahwa Kebun Binatang = Taman Hewan; berarti itu cuma HOAX. Tapi jalan Taman Hewan memang ada). Saya telusuriiiiiiiii sampai dalam, lalu menemukan rumah yang dimaksud. Tapi ternyata bukan rumah itu melainkan rumah dengan nomor itu pada RW yang lain.

Saya cari lagi, dan menemukan rumah sederhana di perumahan yang sangat familiar dengan gang-gang sempit, pos ronda, orang nongkrong-nongkrong. Di depan rumah itu saya melihat sekilas ada ibu-ibu yang sedang berdiri. Ya, dia menunggu saya karena sejak dari kebun binatang sampai ke rumah itu, saya memang SMS-an dengan handphone saya.

Saya dipersilakan masuk ke rumah sederhana sebuah keluarga yang sangat ramah. Saya mengobrol dengan format yang sama : memohon pemakluman atas kecerobohan dan martabak yang telah dingin, juga perkenalan diri di akhir. Saya menitipkan salam untuk bapak-bapak yang menemukan handphone saya pada isterinya. Ibu itu sempat memperkenalkan Sabda, anak kandungnya.

Di Indonesia ada orang-orang yang ramah, baik hati dan menjaga integritas baik-baik. Namun mereka berada di pelosok kota, dibawah flyover, ditengah-tengah kehangatan kebersamaan perumahan yang sempit gang-gangnya. Semoga Allah mengampuni kecerobohan saya, memberi keberkahan kepada dua keluarga yang mereinkarnasi handphone saya.

Coda :
Paginya, saya sudah dimarah oleh kawan sedepartemen saya karena tidak membalas SMS-nya. Keluarga ke-dua itu membelikan charger handphone khusus untuk handphone saya, yang telah saya ganti uangnya di malam kemarin bersama buku hadiah dan martabak dingin.
Heheh, life goes on, man!

Iklan

4 thoughts on “Reinkarnasi yang ke Dua”

  1. owh begini toh ceritanya..hehe
    mudah2an banyak hikmah yang bisa qta ambil bersama ya.. (nah lho…hehe)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s