Bodor, Jurnal, Kontemplasi

Ditilang Sebesar Rp.0,-


Hari ini saya ditugasi untuk meluncur ke daerah suci untuk mengambil komoditas yang harus dijual di dinamik6. Defaultnya saya harus melewati fly-over pasupati agar bisa sampai di daerah suci. Namun saya memilih jalan ke simpang dago-dipatiukur-lalu masuk ke daerah monumen perjuangan terlebih dahulu.

Sampai di depan UNPAD, saya mendapati jalanan yang tidak terlalu macet padahal sedang ada wisudaan. Dengan percaya diri, saya belokkan diri saya eh motor saya ke kiri sebelum saya melewati Rabbani agar bisa ke monumen. Di sanalah banyak mobil diparkirkan seperti pangkalan ojek.

Ngeeeeengg, lalu saya melihat buanyak sekali mobil yang sedang parkir namun saya tidak bisa meminta mereka pindah parkir karena saya bukan anak pejabat dan lagian mobil tidak bisa bicara. Hanya rumput yang bergoyanglah yang bisa diajak berbicara. Sudah ah ngawur nih.

Dengan PD nya saya lurus
eh pake denah aja deng. Nih :

|…ke gedung sate..|
|O        |            |[]V[]|
|          |            |[]V[]|
|xxxx   |____ |[]V[]|_______
|                          []  [] _<——-_
|            _____               |
|           |           |            |
|           |           |            |
|           |           |            |
|….ke monumen….|

Penjelasan :
<—- = saya
V = boleh lewat sini
X = tidak boleh melewati ini
O = polisi
[] = mobil parkir

Ya, saya masuk dari sebelah kanan (penglihatan kita sekarang). Saya tahu bahwa hanya dengan belok kanan dan sabar menunggu mobil yang sedang mau parkir, saya bisa melewati kawasan itu. Tapi saya memilih untuk lurus ke jalan yang saya sendiri baru tahu bahwa jalan itu forbidden. Dengan asumsi pemakluman pribadi, saya tiis wae belok kanan ke jalan yang tidak seharusnya saya lewati.

Ngeeeeenggg. Ada mobil polisi, saya melambat dan baru menyadari bahwa mereka telah menunggu-nunggu kedatangan saya. Saya memilih untuk menghadapi mereka dengan senjata yang saya punya, lalu memarkirkan di sebelah kiri jalan.

(kira-kira seperti ini)
“Saya pikir ini gak forbidden karena ada wisuda..”
“Ya, tapi kamu tau ini forbidden?”
“Saya pikir ini gak forbidden karena ada wisuda..” kata saya dengan nada yang lebih menantang.
“Sini STNK sama SIMnya!, ditilang aja ya!”
#mengeluh terang-terangan # “oh, ya ya. Punten pak”
Saya langsung membawa kotak kresek yang berisi apa-ya-saya-lupa-lagi dan langsung bersiap menelepon koordinator di kampus dan memohon pemakluman bahwa saya akan lama; lalu saya berpikir untuk naik angkot; dan menyadari bahwa besok-besok saya akan langsung sidang. Skripsi. MANA ADA?!

Salah satu polisi yang menghampiri saya balik ke mobilnya dan bercakap-cakap dengan kawannya.

“Mau ditilang atau dibantuin aja?”
“Maksud bapak?”
“Iya, mau ditilang atau dibantuin aja?”
#Tanpa ragu :#  “Ditilang aja pak, saya yang salah.”

Salah satu polisi yang menghampiri saya balik ke mobilnya dan bercakap-cakap dengan kawannya. Lagi. Dan saya sudah dalam keadaan siap-siap pergi ke tempat tujuan tanpa motor. Lalu dihampiri lagi saya olehnya.

“Udahlah lain kali jangan gini lagi ya! Nih!” katanya sambil memberikan SIM dan STNK saya.
“Gak ditilang pak?”
“Lain kali jangan gini lagi!”
“Oh, punten (kata-kata kojo saya) pak!” kata saya plus salah tingkah.

Ngeeeenggg…

Untuk kesalahannya memang tidak patut ditiru. Tapi, untuk memilih sidang daripada sogok, sudah coba?

Iklan
Standar

2 thoughts on “Ditilang Sebesar Rp.0,-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s