Kita Ini Sudah Sampai Mana


-mentoring mandiri, Alka, 16 oktober bada magrib ngaret edan.

secara latar dan display pokoknya kami bertiga (Endro, Yorga dan Saya) mengadakan mentoring mandiri yang dikarenakan bang Arfi mengalami sakit.

singkat cerita, tibalah waktunya saya tausiyah.

setelah dipikir dalam-dalam sedalam 102 km ke dasar lautan, saya menyadari sesuatu.
sesuatu yang seharusnya sudah lama dijadikan batu loncatan di mana saya SEHARUSNYA BISA LEBIH SOLEH dari keadaan kemarin.

Ini bukan tentang saya harus segera berubah menjadi lebih soleh,
tapi tentang fakta yang menunjukkan bahwa saya harus benar-benar menunjukkan bahwa saya bukanlah orang yang membiarkan hidup berjalan begitu saja. Tanpa hikmah, tanpa development.

Pantas saja akhir-akhir ini saya merasa yang saya sampaikan kepada mutarabbi nyaris habis. Tidak ada yang bisa diceritakan lagi dari pengalaman hidup saya. Begitu-begitu saja. Nyaris habis karena saya benci mengulang menyebutkan cerita -cerita apapun!.

Jangan-jangan, saya atau Anda juga sama seperti emang-emang yang bangga pisan sudah menjadi sopir angkot selama 10 tahun.
Sekarang coba kita bayangkan.
Saya sedang berada di rumah kecil di pinggir jalan.
Saya duduk sila di satu-satunya ruangan yang ada di rumah itu, bersama meja kecil khusus belajar.

i'm Ready
duduk_siap!

Sudah 7-8 hari ini, setiap hari selalu datang beberapa orang mengunjungi saya.
Mereka datang berurutan setiap hari satu persatu.

Hari pertama, masuklah dari pintu satu-satunya rumah ini, Kang Aldhira, Kang Adhi, Kang Andry, Kang Rafi, Kang Ahmad dan  Kang Fachri. Mereka mengajarkan saya banyak hal tentang bahwa membentuk lingkaran pada ba’da jumatan sambil makan mi-goreng-dimangkokkin-yang-bumbunya-kerasa-pisan itu menjadi berpahala ketika dimulai dengan baca Quran dan diakhiri dengan doa khususnya. Di sana banyak simulasi menarik dan lucu. Oke, saya akhirnya tahu. Hari berlalu.
Besoknya, Kang Yedi, Kang JJ datang ke rumah saya juga dan berbicara banyak hal tentang keislaman.
Saya diajari nasyid, saya juga diajari apa itu mujahid. Waktu itu saya oke-oke saja -mengiyakan apa yang mereka bilang.
Besoknya, Kang Yahdi hadir juga ke rumah saya dan membuat saya dan teman-teman lainnya senang berada di dekatnya. Dia berbicara banyak tentang sekolah, kuliah, pertemanan, makanan, Gunung Manglayang, cara biar bisa sedikit sholeh, dan lainnya. Asyik, sekali.
—————–Hari berakhir dan saya harus pindah rumah.
Bersama sebagian kecil teman saya, saya pindah ke rumah lain yang mirip, hanya agak luas 4m-persegi dari sebelumnya. Masih tetap satu ruangan-satu rumah.
Saya menunggu, namun tidak ada yang hadir ke rumah saya padahal saya menunggu. Saya tertarik untuk melihat rumah saya sebelumnya, namun saya malas meninggalkan tempat. Saya memutuskan untuk tidak kemana-mana dan mata saya berat dan sayapun tidur. Keburu esok hari.
Hari berlanjut, masuklah Kang Yasir mengajarkan saya apa itu tahapan dakwah sekolah. Tiba-tiba saya sudah mulai capek karena sejak kedatangan Kang Yasir, saya mulai mencatat apa  yang orang bilang kepada saya setiap mereka datang ke rumah saya tadi.  Tangan saya pegal dan saya tidur. Di tidur saya, saya banyak bermimpi. Mimpi bahagia, mimpi buruk, mimpi blank, mimpi (maaf) basah dan mimpi lainnya.
Saya bangun tiba-tiba Kang Danar sudah ada di depan mata dan bersiap-siap memberikan materi tentang bisnis, dan hal sosial lainnya. Tidak lebih dari satu jam setelahnya, masuk juga Habil dan Andre untuk menyemangati saya agar saya tetap berada di rumah baru itu. “Jangan kemana-mana!”, kata mereka berdua. Saya mengiyakan juga. Saya masih di rumah yang sama. Hari berakhir. Saya masih duduk dengan pose yang sama, pada ruangan yang agak luas. Dari rumah pertama, setiap harinya ruangan di rumah saya bertambah luas 1m-persegi. Sekarang sudah lebih luas 5m-persegi.
Besoknya, tiba-tiba saya merasa saya ingin ketemu Kang Yahdi dan menceritakan tentang apa yang terjadi selama ruangan di rumah saya bertambah luas. Saya meneleponnya dan dia mau datang. Ketika memang Kang Yahdi tidak ke rumah, di jam yang agak siang, panas pula, Kang Ibam datang ke rumah dan mencontohkan bagaimana cara beraktifitas di sekolah. Saya tertarik dan akhirnya saya membuat sebuah karya di meja itu. Saya membuat film bersama Elian dan lainnya. Saya puas, lalu tidur. Lalu datanglah Kang Husna untuk menjelaskan saya bagaimana caranya agar film yang saya buat menjadi barang yang termanajerisasi distribusinya di pasar. Kata saya : “Okey kang! ngerti!”.
Lalu saya diam lagi, berfikir sebuah alasan tentang mengapa saya rasa ruangan di rumah itu tidak bertambah luas. Aneh. Saya befikir berjam-jam, lalu tertidur.
Hari sudah esoknya, dan tiba-tiba suasana di sekitar, berubah. Saya berada di Alka bersama Yorga dan Endro. Dan saya menyadari bahwa dari hari-ke-hari….itu bukanlah berhari-hari. Melainkan bertahun-tahun.

Saya berbicara pada kedua orang itu yang kira-kira seperti ini :
“sadar tidak sadar, urang teh geus bertaun-taun mentoring. pas kamari urang ngementor barudak kelas tilu, urang ngarasana urang teh masih saeutik lah ilmu na. amalan yaumian urang juga dari dulu…….gini-gini aja ah!. Inilah yang membuat urang berfikir dan blablabla dst. …..”

Ya! saya sudah mentoring bertahun-tahun, namun saya merasa ilmu saya dan amalan saya CUPU.
Gila! saya seperti membuang waktu tanpa pengembangan diri (baca:tidak nambah soleh).

Inilah yang membuat saya semangat untuk mengajak mutarabbi saya untuk menyadari bahwa mereka juga CUPU amalannya, maka saya mengajak mereka pada program spontan saya : “Amalan Yaumian dalam Kerja Tim“.

Dari waktu dulu, saya tidak beranjak dari rumah saya, tidak beranjak ke luar rumah dan BENAR-BENAR mengunjungi “rumah” mutarabbi saya untuk memberi manfaat, menginspirasi. Ruang di rumah saya ini harus diperluas agar orang masih tertarik untuk mengunjungi dan juga nyaman untuk keluar-masuk saya. Cara, jalan dan kelapangan pikiran saya harus diperluas tidak hanya 10m-persegi. Saya harus menghiasinya dengan aqidah yang lurus (kalo gak salah), ilmu yang banyak, dan KREATIVISASI di dalamnya!
Mentoring bertahun-tahun berarti ilmu dan semangat kita harus bertambah, barudak!

#akhirnya saya mulai semangat melek huruf, eh, baca buku.
N U H U N, B A R U D A K !!!

Iklan

4 thoughts on “Kita Ini Sudah Sampai Mana”

  1. i want to say hello to Fadhli, Taufan, Agung, Ramadhan, Rena, Faisal, Azwar yang udah nemenin saya sejak SMP!
    kamarana wae atuh euuy~

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s