Eureka : Cita-cita Tiba-tiba (Episode 1)


Image2

Ini adalah
sebuah cerita singkat
tentang seseorang biasa
yang terinspirasi
untuk memiliki
cita-cita
.

Februari
kalau tidak salah.

Image3

“ 52……”,
“39……”,

“15……”,
“13.”

 

 

Begitulah senandung nilai akademisku akhir-akhir ini. Aku kira aku bakal terperosok hingga aku tidak akan pernah semangat lagi untuk sekolah. Ternyata Dia menunjukkan rizki-Nya hingga terlihat tepat di kedua mataku hingga kira-kira selang dua minggu dari akhir kelas tiga waktu itu.
Pengalaman ini sangat berarti.

Singkat cerita, aku adalah anak sekolah biasa yang sedang rusak akademisnya. Jatuh.
Tapi, aneh, karena sebenarnya aku sudah kelas tiga, yang berarti keharusanku akan belajar serius seharusnya sudah menghantuiku hingga menusuk tulang.
Aku santai-santai saja. Hingga aku menyadari bahwa nilaiku turun drastis. Memang aku sangat jarang mendapat nilai 80, 90 atau 100. Tapi penurunan nilai dari 70-ku hingga belasan sangat terasa.
Sial, karena ini tidak hanya matematika.

Tapi yang lebih menusuk tulang pada bulan-bulan februari itu bukan dari keinginanku dalam mencapai “universitas apapun”, tapi dari lingkungan sekitarku. Kakakku, teman-temanku, orang tuaku juga.
Mereka bilang bahwa lebih baik aku menyerah pada keadaan, telan dalam-dalam kenyataan bahwa aku akan segera tersingkir dari persaingan ini atau menganggur satu tahun.

***

Hari itu memang aku tidak sedang puasa. Tapi hari itu aku pucat sekali. Akumulasi penilaian orang lain akan akademis diriku seakan memberatkan isi tas ku dan membuat aku berjalan lambat, sempoyongan pula.
Belum lagi, beban pikiranku. Shalatlah diriku di Al-Kautsar, jalan sumbawa. Sayang, tidak satu rakaat pun waktu itu aku khusyuk. Tapi shalat di sore itu agaknya membuat jalanku tegak kembali. Entah kenapa. Dan aku memutuskan untuk pulang dan tidur.

***

Hari sudah petang. Sebenarnya sejak pulang dan dari gerbang depan rumahku, sudah tertampung air kesedihan itu di danau di atas hidung ini.
“Aku laki-laki?” Ya! tapi siapa yang tidak ingin menangis ketika tidak ada orang yang menyemangatiku agar bertahan dalam keadaan se-drop ini.
Ini tidak berlebihan! Kita tahu bahwa akademis di SMA cukup menentukan mau jadi seperti apa aku di Universitas nanti. Atau lebih tepatnya cukup menentukan mau ke mana aku beres Prom Nite nanti. Terus-menerus kalimat itu terngiang di telingaku.

Tapi bisikan seseorang yang pesimis itu terdengar jelas bahwa,
sudahlaah ini tidak hanya terjadi hari ini…Nilai jelek ini sudah familiar di hadapanmu, kawan. Satu tahun kebelakang dari sekarang, kisaran angka-angka itu sudah menghiasi sekolah, dan citra dirimu. Telan saja.”

Tapi kelas tiga ini, angka-angka itu tidak lagi terasa biasa.

Walaupun semua perasaan itu terasa sangat sakit dan berat di hati,
naik dari tangga lantai satu rumahku, teringat bahwa tadi aku membawa oleh-oleh tugas latihan soal untuk persiapan ujian tahun ini dari sekolah,
aku memilih untuk mengerjakannya.

Sayang. Atmosfir semakin berat lantaran soalnya susah naudzubillah! Soal-soal itu semakin memaksa aku yakin bahwa aku memang tidak kompeten dalam mayoritas pelajaran MIPA. Tapi,
entah kenapa aku bertahan lebih lama di kursi meja belajarku. 200% dari waktu belajarku yang biasa tidak lebih dari 30 menit. Mungkin karena tulisan itu… .

…LAB. KIMIA ITB…

Image4

Lalu, semuanya memutih, menyisakan sketsa-sketsa pensil.
….terlihatlah sebuah gedung kecil berisikan perabotan eksperimen kimia
yang isinya adalah mahasiswa-mahasiswa yang sedang praktikum…
Lalu semuanya bertepuk tangan mengapresiasi presentasi seseorang di depan papan tulis sana. Riuh ramai akan energi positif…
Postur orang yang berdiri didepan mahasiswa lain itu dibuat Zoom-in…
Dekat, memperlihatkan raut wajah yang jenius,
semakin dekat memperlihatkan siapa sebenarnya nama si jenius itu,
semakin dekat lagi, dan aku terdiam. Tersadar bahwa namaku sama dengannya.
”T I T O   A J I G U N O”.

Lalu semuanya terasa Zoom-out.

 

Singkat cerita, aku adalah anak sekolah biasa yang sedang yakin akan akademisnya, yang sedang berada di puncak dan ingin membuktikan kemampuannya di USM ITB.

Langkahku tegap siap menghadapi soal yang disajikan nanti di beberapa langkah setelah gerbang depan ITB.
Tegak tidak seperti langkahku di pulang-pulang sekolah bulan februari itu.

bayangan itu memudar, akupun kembali ke dunia nyata……………

***akhir dari episode satu***

Iklan

4 thoughts on “Eureka : Cita-cita Tiba-tiba (Episode 1)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s