Karangan Bebas, Kontemplasi

Si Bodoh & Gitarnya


Jarum pendek selalu menuduh angka 12
Seakan hanya dialah yang salah
Disaat pria berseragam melepas dahaga
Aku masih setia menemani dawai ini menari-nari
dibawah teriknya, ditelan keringat sendiri

Habislah lagu cinta yang kuhafal
Seakan akulah yang paling bodoh
Disaat seharusnya aku menghafal untuk hari esok
Aku masih sabar menemani lambung ini menari-nari
jauh-jauh mencari-cari keramaian, mengejar ketidakpastian tujuan

Kerjaanku menangis tanpa air mata
Seakan tak ada lagi jalan keluar
Disaat seharusnya aku bersama cita-citaku
Aku masih tersesat di bawah pekatnya asap lampu merah
Maafkan ‘ku Ibu, tak ada yang ku kirim

Ya, orang bilang aku adalah pecundang
Bagaikan kukang yang lari terkencing-kencing dari kejaran macan
Melakukan 1 usaha dengan kemungkinan tak hingga
Lari dari 1 masalah dan hinggap ke masalah lain
Dikejar matahari, dikejar gelapnya malam

Waktu kecil, aku ingin jadi presiden
Bodohnya aku, pergi ke ibukota
dan di sinipun, aku tidak belajar apa-apa
Sambil terus mencoba menyelesaikan sebuah soal Matematika Realita:
Mencari peluang keluarnya angka 7, dari 1000 kali pelemparan dadu

Sial. Aku orang termalas sedunia, waktu itu
Yang selalu lari dari teror orang-tua-di-sekolahku
Kala hujan, Aku selalu ingin bicara padanya:
“Petir, sambarlah aku!”. Aku muak untuk semua ini
Aku ingin waktu ini mundur,
maafkankanku Ibu, bulan ini, tak ada yang ku kirim

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s