Kontemplasi

Just Do Not Close Your Heart


Seseorang yang telah lebih dewasa dari saya pernah berkata suatu hari di sebuah lingkaran:
Cahaya itu sudah disiapkan.
Tuhan sudah menyiapkan skenarionya bagi tiap satu orang.
Tiap orangnya.
Bahkan jalur/jalan masuk cahaya untuk kita dengan orang tua kita mungkin berbeda.

Lalu muncul pertanyaan besar di atas kepala saya : cahaya itu, apa?-
Jika saya terjemahkan ke dalam bahasa saya, cahaya itu adalah
“setiap kesempatan yang membuat kita ingat pada Tuhan”

Bersyukurlah kita masih diberikan alat indera yang benar-benar bisa digunakan baik ketika kita sangat memerlukan keberfungsiannya maupun ketika kita sedang hanya membuang waktu.
Cahaya itu selalu menjadi stimulus yang datang ke otak kita secara tidak langsung yang diterima oleh sensor di diri kita.

Setiap waktu atau setiap momen yang setiap fotografer akan mengabadikannya dan selalu diingatnya, cahaya itu ada di hadapan kita.
Di atas, di kanan, kiri, depan, belakang.
Cahaya itu adalah
kesempatan kita melihat seseorang yang motornya mogok di pinggir jalan dan tidak ada pom bensin,
kesempatan kita mendengar suara motor yang tergelincir di posisi yang entah di mana,
kesempatan kita merasakan makanan yang gak enak,
kesempatan kita memperhatikan ceramah-intonasi-tinggi oleh orang yang merasa dirinya benar
dan
kesempatan kita memilih satu jalan : surga atau bukan surga
.

Cahaya itu Hidayah, bang.
Hidayah itu tidak selalu bisa ditunggu.
Hidayah itu tidak mirip seperti
ketika kita butuh pulsa,
lalu kita sedang berada di perjalanan di jalanan yang asing,
lalu kita sudah melewati puluhan counter Handphone di pinggir jalan,
lalu sementara daritadi kita kebingungan ingin memilih counter yang mana
dengan dalih mencari yang paling murah.
Hidayah itu tidak sealu bisa kita ambil dengan cara memilih dan menganalisisnya.
Hidayah itu dikejar dan ditangkap.
Hidayah itu bahkan bisa datang tiba-tiba.

TINGGAL YANG MENJADI PILIHAN KITA ADALAH : MAU DIAMBIL APA ENGGAK
Banyak orang (termasuk saya sendiri) sering menyianyiakan momen berharga bagi mereka sebagai kesempatan untuk mengingat-Nya. Mengingat dengan variasi yang beragam.

Ya, Allah Swt. sudah menyiapkan momen-momen itu untuk tiap satu orang.
Melalui orang lain,
perkataan orang lain,
masalah orang lain,
kecelakaan orang lain,
meninggalnya orang lain,
kesalahan orang lain,
cara makan orang lain,
IP orang lain,
cara mencari nafkah orang lain
dan seabreg cara-Nya agar kita kembali pada track yang di Ridha-i.
TINGGAL YANG MENJADI PILIHAN KITA ADALAH : MAU DIAMBIL APA ENGGAK

Maka, jangan tutup indera kita.
Terima dan resapi dan fikirkan setiap kejadian yang menimpa kita, menimpa orang lain juga.
Jadikan semuanya sebagai pelajaran.
Mari sekali lagi pelajari diri kita yang terkadang menutup mata untuk setiap cahaya di hadapan kita.
Mengapa kita menyiakan momen itu dan mengapa kita tinggalkan cahaya itu lalu melanjutkan hidup seperti biasa tanpa akselerasi
Tuhan bahkan akan menjadi sangat yakin bahwa kita tidak perlu lagi Hidayah itu
jika kita terus-menerus menyengaja menyia-nyiakan setiap Hidayah yang datang.

Dan,
mengapa setiap orang beda hidayah : Karena tidak ada yang bisa memaksakan
Hidup itu pilihan, bang.

Hanya, jangan tutup hati kita.

20 April 2010
23:06
Norien’s Room
Semoga bisa dicerna.
In this note: Rachmatilovski Valdio (notes)

Iklan
Standar

One thought on “Just Do Not Close Your Heart

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s