Puisi Sebelum Mati


sebenarnya aku ini ngerti nggak sih

lalu aku menjalani hari dengan biasa saja:

matahari yang membarat, lagu-lagu, matinya orang lain,

dan orang-orang sok tau tentang waktu itu

lalu apa? ombang ambingnya media massa?

konser amal? emang efek langsung?

lalu sebenarnya aku ada di jalan yang benar gak sih?

masing masing sibuk dengan kesenangannya masing masing

yang satu sibuk kampanye. yang satu sibuk ngungsi. yang satu sibuk nebak judul lagu. yang satu sibuk ketawa-ketiwi. yang satu sibuk nangis bohongan. yang satu sibuk gak jelas-buram sih. yang satu baru tayang. yang satu sibuk acara ngajar huruf-hurufan. yang satu sketsaan seniman. yang satu film seru. yang satu plagiasi acara luar negeri. dan yang lainnya cari sensasi. jelas kalau iklan rokok lebih memotivasi.

kian hari kian abu dunia ini

lampu kuning dibilang lampu ijo

lilin ditiup dibilang pemanjang waktu (maaf saya harus bilang)

lampion hati sudah ditutup. aku telat.

tidak ada komunikasi lagi di rumah

si pejuang juga kepergok main api

paha paha itu lebih merajalela di bulan kemarin dibanding tahun sebelumnya

percuma mendengarkan ocehan baik orang.

bahasanya berbeda. bahasannya udah beda.

udah pada males! yang dipijak oleh kita juga.

mararales dipijaki oleh si brengsek, ga tau malu

makin jelaslah setelah bencana ini, orang memilih jalannya masing masing

sebenarnya, kata hijau itu sudah terngiang,
setiapkali orang mengiangkannya dihadapanku hingga kira-kira 1-2 menitan, lalu aku menekan remotenya lagi dan melanjutkan fantasi.
cuma kita berpikir ada yang lebih menyenangkan dan lebih menguntungkan dari ini.
aku tidak terlalu percaya apa yang tidak aku lihat. ini biang keroknya.

kawan, kita ini hidup dua kali.
lingkungan seharusnya tidak menjadikan kita apapun.
jadilah jalan terang bagi orang lain di lingkungan kita.
sudahlah jangan hiraukan provokasi makhluk yang mati nanti akhir waktu.
tau? ada tempat yang lebih asik dibanding dunia ini.
zaman sekarang, dunia milik siapa?
.
.
.
.
.
.
.
.
pilih saja jalannya masing-masing
hidup ini sudah milik aku–ya, empat-lima tahun yang lalu hidup ini sudah milik aku. konsekuensinya juga.
mau masuk ruang bahagia?,
atau masuk ruang bahagia dengan menitipkan kaki kiri di ruang api.

Tuhan. bantu aku jadi jalan terang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s