All For Nothing


07 Agustus 2009 – 5:03 PM.
kalo tidak salah.

saya mulai jenuh dengan pengerjaan lucu-lucuan ini. ide saya.
saya ambil langsung jaket tebal favorit dan mengambil jalan ke tempat biasa.

proto (1)
ke tempat biasa, melakukan hal yang biasanya.
duduk nontonin yang olahraga.
tempat yang pas untuk orang kayak saya, paling tidak.

barang 2 menitan, saya sudah ‘ngebet’ ingin segera makan makanan ringan yang disimpan di saku kanan jaket saya, dan melahapnya seraya menyebut nama Nya.
sambil mikir.
mikir yang sebenarnya sudah harus ditinggalkan.

habis belajar kata-kata baru, entah dari mana. saya biasa belajar kata-kata baru sendiri aja.
“all for nothing”

saya gak ngerti kenapa sampai hari ini kata-kata itu terus terngiang di kanan dan kiri.
padahal saya udah menyibukkan saya ke hal-hal yang, saya kira, ini bakal menyibukkan.
ternyata tetep aja.

tiba-tiba ingin bercucuran tapi susah. cuma ditampung aja.

ngomong-ngomong bercucuran,
waktu itulah terakhir kalinya saya bercucuran.
waktu acara ‘camping persiapan mental’ (saya sebut dengan itu).
6335_1029695998565_1710323706_57784_2170018_n 6335_1030235972064_1710323706_58677_612017_n 6335_1029110543929_1710323706_56471_3845651_n 6335_1029109583905_1710323706_56448_738314_n
(*gak ada saya! )

‘all for nothing’
atau mungkin yang benernya:
those all are for nothing.
bahkan dialog: “Omae..kawatta” pada scene itu pun gak mempan untuk mengubah mindset tolol ini.

dan selalu.
selalu muncul pikiran-menerawang yang tolol pula.
tentang bagaimana raut muka si penanya ketika saya jawab dengan jawaban biasa, setelah mereka bertanya :
“jadi, di mana?”

saya keseringan memvonis sekaligus mengeksekusi diri sendiri gara-gara melakukan banyak hal
tentang:
di tempat lain,
pada orang lain,
terobsesi melakukan hal yang sama : menempel kertas itu di tembok atau tempat strategis agar (katanya) bisa ingat terus,
disemangati diri sendiri, saja,
dan hal yang sifatnya spiritualis bagi saya.

dan semuanya tiba-tiba memandangi saya dan bertanya:
“iya. itu semua tuh untuk apa?”

dan pemikiran tadi saya bungkus hanya dalam kira-kira 15 menit.
karena setelah itu saya balik lagi.

kamar saya di ledeng (3)

5:30 PM. saya bukan anti-sosial, tapi saya rindu ruangan ini.

5:51 PM. lalu saya shalat maghrib seperti biasanya.

dan kata-kata-baru itu baru masuk ke kamus saya baru-baru ini.
supaya saya bisa mendapatkan apa yang saya pinta ketika saya menengadahkan telapak saya.
ajari saya.
tolong.
ajari saya ilmu
ikhlas.



 

/*berharap berubah*/

Iklan

2 thoughts on “All For Nothing”

    1. ini kan dulu.

      lagian, sepertinya posting ini bakal di lanjutkan dengan SNMPTN 2010. dan semua pengalaman baru tentang profesi keguruan yang aku dapatkan tiap jumat.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s